aku bosan terus terusan beradu pendapat dengan ibuku dengan ayahku tentang banyak hal terutama tentang apa yang kulakukan. mereka selalu mengatakan aku salah. aku selalu salah. tiap detik ya hampir tiap detik mereka bergabung memberiku berbagai nasehat yang sebenarnya sudah sangat sering aku dengar. suara mereka seperti kaset lama yang diputar terus menerus.
aku rasa, orang tuaku tak pernah benar - benar tau apa yang aku pikirkan. mereka selalu melihat diriku dari luar. mereka tak pernah tepat bila menafsirkan bagaimana isi hatiku. ayahku suka sekali mengatakan secara langsung pendapat2 salahnya tentang aku. aku ini begini lah aku ini begitu lah. aku adalah bla bla bla. aku begini begini. setiap saat. setiap ia melihatku di dekatnya.
ibuku kadang menjadi malaikat untukku kadang juga menjadi sesuatu yang menyebalkan atau menakutkan untukku. ia selalu berubah - ubah. aku selalu terkejut setiap kali sikapnya berubah. setiap kali tiba - tiba ia marah besar. kemarahannya selalu berangkat dari hal - hal yang sepele. yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan. semua tentang aku.
aku tidak suka terlalu diperhatikan. diperdulikan dari yang lain. aku tak mau kecanduan omelan - omelan. aku juga tak ingin dipaksa untuk begini dan begitu. mereka selalu bilang “agar aku menjadi lebih baik” atau “agar aku sehat”. tapi mereka tak pernah tau sebenarnya aku juga mengupayakan apa yang mereka inginkan. hanya saja semua butuh proses. sesuatu akan berkembang selalu dimulai dengan tahap awal. tidak langsung jadi. dan aku memang sangat lamban menuju proses itu. mereka hanya butuh bersabar. tapi mereka tak pernah mengerti. atau aku yang tak pernah bisa mengerti dengan sikap terlalu peduli mereka ?
akhirnya ibuku melontarkan kata - kata yang mengecewakanku. beliau suka sekali menghancurkan moodku yang baru saja terbangun baik. baru saja memulai tahap dari proses itu. menghancurkan semangatku untuk bangkit secara tak langsung. dan dia tak pernah sadar dia selalu membuatku putus asa.
hari minggu tanggal 26 april aku mencoba menjauh dari rumah dimulai pada pukul 14.30. dengan ucapan “aku pergi” aku membuka pintu rumah dan segera menaiki sebuah angkot. aku mencoba menahan air mata selama perjalanan entah kemana tanpa tujuan.
hey, aku sedang menjalankan perintah ibuku untuk pergi dari rumah jadi aku tak perlu sedih karena aku sedang mengerjakan perintahnya untuk pergi dari rumah. aku tak mau yang kulakukan ini disebut kabur dari rumah. karena yang kulakukan ini adalah perintah ibuku yang dengan suara super keras ia mengatakan padaku “pergi saja jauh - jauh dari rumah ini !!!” ketika ia sedang didapur setelah ia memarahiku tentang kamarku.
ya aku sedang pergi. pergi kesuatu tempat. aku ingin pergi sangat jauh dari tempat ini. aku ingin keluar dari kota ini. tapi aku tak memiliki uang cukup untuk benar - benar pergi. maka aku hanya berkeliaran tidak tau arah diseputar kota. berdiri berjam - jam di Gramedia. lalu naik angkot menuju tempat sewa film, disana aku menyewa beberapa film bagus. kemudian dari situ aku kembali menaiki angkot melewati Gramedia menuju sebuah plaza yang sesak dengan manusia. setelah dari hanya mondar - mandir di dalam sana aku tak tahan dengan keramaian aku pun menaiki angkot lagi menuju sebuah toko buku dekat pasar. disana aku menjelajahi semua buku - buku yang ada. membaca tiap judulnya untuk menemukan buku yang mengenak feelingku. akhirnya setelah lebih kurang dua jam aku membeli novel karya Puthut Ea yang berjudul “cinta tak pernah tepat waktu”. aku suka covernya. aku juga suka judulnya. sebelumnya aku tak pernah membaca satu karya pun yang dimiliki Puthu Ae. padahal ia ada di list friendku di fb.
setelah dari sana aku merasa lapar. aku blm makan siang. padahal hari sudah pukul lima sore. maagku kambuh. aku mencari tempat makan. aku mengelilingi dan mencarinya dengan manaiki angkot. tapi aku selalu mendapati tempat itu penuh berisi puluhan manusia. akhirnya aku memilih untuk menahan lapar dan sakit. separuh uangku sudah habis untuk ongkos. separuh perjalananku dihabiskan di dalam angkot. berputar berkali - kali. melewati jalan yang sama bisa dalam 3 kali lewat. bahkan aku bertemu dengan supir yang sama. aku melihat berbagai macam karakter penumpang. mulai dari dua orang anak kecil berumur kurang dari 6 thn di titipkan bapaknya dalam angkot dan hanya mengatakan pada supir “antar anak - anak ini ke bla bla bla” lalu sibapak pergi meninggalkan 2 anaknya yang duduk lugu di depanku. di dalam angkot.
aku juga bertemu dengan ibu - ibu yang memborong sayur mayur begitu banyak hingga memenuhi isi angkot. bapak - bapak yang berpenampilan aneh. remaja - remaja cewek yang centil menggosipkan si supir yang menurut mereka tampan. dan dua orang ibu - ibu yang menceritakan tentang orang - orang yang mereka kenal. aku selalu duduk di sudut angkot. menyendiri. merenungi. melihat dan mendengar.
pikiranku berkecamuk. tak mau berhenti. di dalamnya ada masalah - masalahku. juga ada orang - orang yang sedang kulihat. semua pembicaraan - pembicaraan mereka. gerak gerik mereka. cerita - cerita yang tak pernah aku tau. aku menyatukannya dalam pikiranku.
kadang, aku menikmati saat - saat seperti ini. dimana hanya ada aku dan pikiranku. sendirian. namun kadang aku merasa sakit seperti ini. merasa terasing. merasa berbeda. merasa kalah. merasa salah. merasa bodoh. dan merasa ceroboh.
Tuhan, mengapa kau menciptakanku ? dengan banyak rasa yang selalu berganti - ganti. kadang kupikir aku orang yang jahat. sangat jahat. aku suka sekali menyiksa diri sendiri. menyakitinya. melukainya. kadang aku merasa lebih baik. aku suka sekali memanjakan diriku. menyayanginya. mengerti apa yang ia mau.
apa yang harus aku lakukan terhadap diriku ? untuk kebaikanku dengan hubunganku bersama orang lain ? aku anti sosial. itulah kenyataan yang menggerogoti tubuhku. luka yang kubuat bukan karena masalahku dengan orang lain. tetapi karena masalahku dengan diriku sendiri.
mungkin aku orang yang payah. yang selalu berubah - ubah. kadang menjadi baik kadang menjadi jahat. aku bisa saja menjadi penyayang dalam seketika. aku juga bisa menjadi kejam dalam hitungan detik.
aku tak memiliki kestabilan emosi yang baik. aku membuat hidupku tidak berbentuk. tidak jelas. karena aku sendiri tak tau apa yang aku inginkan.
sudah pukul 7 malam. aku masih diluar rumah. di handphoneku bertumpuk pesan dan panggilan tak terjawab dari rumah. kubuka satu persatu. pesan dari ibu, pukul 16.56 “jee, lagi dimana ? sudah makan ? sudah shalat ?”. aku menghela nafas panjang. ibuku…
pesan ke dua kubuka, pukul 17.00 dari ayah : “jee cepat pulang. lagi dimana ?”. pesan ke tiga kubuka, pukul 18.20 dari ika adikku : “kak, kok blm pulang ? cepat pulang.” aku tersenyum.
pertengkaranku dengan ibu dengan ayah membuatku jengah. aku merasa serba salah. aku sampai tak tau harus berbuat apalagi. karena apa yang kulakukan selalu salah. padahal aku merasa baik - baik saja. aku tak pernah benar - benar salah. karena aku punya pemikiranku sendiri.
ibuku sampai bilang aku bukan manusia karena aku tak seperti kebanyakan anak - anak seumuranku yang lain. yang lengkap dengan aktivitas mereka sehari - hari. memang mereka tidak pernah seperti aku. lalu memangnya kenapa ? aku salah ? memangnya aku salah apa ? toh aku tidak seburukĀ mereka. mereka malah lebih tidak penting dengan apa yang mereka suka lakukan. aku merasa apa yang kulakukan semua baik - baik saja. aku tak pernah melenceng dari apa yang seharusnya kuperbuat. aku memang tak seperti mereka. bahkan aku tak mengerti mengapa mereka suka sekali mencari laki - laki. bercinta dan saling bersaing entah untuk apa.
hey, aku sangat menikmati apa yang kudapat saat ini. karena aku mendapatkan banyak hal. banyak cerita berharga. banyak inspirasi dan banyak ilmu. tepatnya bermacam - macam ilmu. beratus - ratus ilmu kusatukan menjadi sebuah pemikiran yang membangun pendirianku. hanya saja aku blm pernah menggunakannya seoptimal mungkin.
dan ayahku selalu mengganggap aku tidak bisa melakukan apapun. tak ingin belajar menjadi lebih baik. tak ingin mencari ilmu yang bermanfaat. tak bisa melakukan sesuatu lebih baik. ia menganggap aku bodoh. apa aku benar - benar bodoh ? ayahku tidak suka menceritakan hal - hal baik tentang aku kepada kerabat - kerabatnya. ia selalu menceritakan hal - hal yang membuat ia kecewa terhadap aku. kadang ia tak pernah menceritakan tentang anak - anaknya kepada orang lain ketika orang - orang itu sering kali membangga - banggakan anak - anak mereka.
ayah bilang, anak - anaknya tidak memiliki kemampuan lebih. tidak seperti anak - anak para kerabatnya. ia menganggap anak - anaknya biasa saja. terutama aku. karena aku sering kali menjadi bahan olok - olokannya di saat orang lain menanyakan tentang aku. di depanku.
ia tak pernah tau betapa malunya aku melihat ia tertawa saat membicarakan tentang aku. mengejekku. mencaciku. ia tak pernah benar - benar tau bagaimana rasanya orang - orang tertawa melihatku. dan aku selalu bersembunyi dengan lekas. mengunci diri di dalam kamar hingga orang - orang itu pergi sejauh mungkin. ia memang tak pernah benar - benar tau apa yang aku rasakan. tapi ia selalu sok tau. menganggap ia selalu tau apa pun tentangku. apa yang aku rasakan.
pukul 20.00. aku masih diluar rumah. tepatnya dipasar. aku berjalan di tepi jalanan pasar yang ditimpa cahaya remang - remang dari lampu - lampu jalanan. pasar sudah sepi hanya tinggal para pedagang yang merapikan lapak - lapak mereka. aku berhenti berjalan di sebuah lapak yang menjajakan koran - koran serta majalah - majalah. kulihat satu persatu. aku memilih koran kompas untuk kubeli. karena aku tak bisa memilikinya lagi setelah masa langgananku dicabut diam - diam oleh ibuku dengan alasan menghemat biasa bulanan.
ah, berapa banyak sih pengeluaran untuk berlanganan koran dalam satu bulan ? tidak cukup seratus ribu. apa salahnya aku berlangganan koran ? apa salahnya berbagi dengan para loper koran ? memberi sedikit uang untuk pekerjaan mereka. mengapa mereka selalu memikirkan untung dan rugi ? bagiku itu sebuah keuntungan bukan kerugian.
pukul 20.15. aku sebenarnya aku memutuskan untuk melaju ke gramedia lagi. tapi aku letih. aku memutuskan untuk pulang kerumah setelah puluhan panggilan tak terjawab dari ayah, ibu dan adikku mengisi handphoneku.
aku berjalan kaki beberapa kilometer setelah turun dari angkot menuju rumahku. dari kejauhan aku melihat ayah dan adikku standby menungguku diluar rumah. aku tidak berbelok agar cepat sampai rumah dan menemui mereka. tapi aku terus melaju lurus di dalam temaram lampu jalanan. berjalan menuju komplek rumah yang terletak dibelakang rumah. dan menyusup ke bagian sampaing rumah yang sepi. yang tidak dilihat ayah dan adikku.
aku duduk di teras secara diam - diam. meletakkan tasku dan mencopot sepatuku. kakiku yang sedaritadi panas, dingin perlahan - lahan. aku duduk di teras. aku bisa melihat tetanggaku yang mengadakan acara kecil di rumahnya. di depan rumahku. di dalam rumahnya terdengar gurih suara gelak tawa. mereka saling menghibur. aku tersenyum. perbedaan terjadi di dalam rumahku. aku tak mendengar suara apa pun di balik jendela di belakangku. di dalam sana diam. sunyi. tidak seperti biasanya. tidak seperti jika aku ada di dalamnya.
ya, aku pembawa suasana di dalam rumah. suasana rumah kurasa memang bergantung kepadaku. seperti inilah jika tidak ada aku. sunyi. bukan aku kegeeran tapi ini memang kenyataannya. karena aku suka sekali menghibur keluargaku. membuat lelucon yang tidak lucu tapi mereka tertawa. membuat sesuatu yang aneh yang dapat menghangatkan suasana.
malam itu, rumahku muram. mungkin ini adalah kesalahanku. tidak, aku tak mau menyalahkan diriku sepenuhnya. ibuku ayahku juga salah. mereka tak benar - benar tau bagaimana cara memperlakukanku mendidikku. aku ingin mereka berbicara satu persatu, baik dan tenang. seperti antar orang tua dan anaknya yang sudah dewasa bukan dengan anaknya yang masih balita.
aku bukan anak - anak lagi. jelas aku bukan anak - anak lagi. tapi sepertinya mereka tak menyadari sudah berapa lama mereka membesarkanku. anehnya mengapa mereka tak melakukan hal seperti ini ketika aku masih anak - anak ? masih balita. aku merasa mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan diwaktu aku masih anak - anak. hingga kadang mereka suka sekali membiarkanku tau segalanya sendirian. dan sampai sekarang aku masih suka melakukan apa pun sendirian. mengetahui apa pun sendirian. mencari apa pun sendirian. dan mereka tak pernah menyadari telah melukaiku.
bahkan ketika aku dijadikan ……. oleh sepupuku. mereka tak pernah benar - benar tau.
dua jam aku duduk sendiri di teras tanpa mereka mengetahui dimana aku. pesan terakhir datang masuk ke handphoneku. setelah beberapa pesan dari ayah yang mengatakan akan mencariku ke rumah temanku berkali - kali. air mataku menetes lagi. lalu kuhapus lagi. berkali - kali. sampai - sampai tetangga depan rumahku bertanya mengapa aku hanya duduk diam selama berjam - jam ? aku hanya diam tak menjawab. aku hanya memberikan senyum padanya. dalam hatiku minta ia jangan menggangguku. tolong biarkan aku sendirian.
setelah beberapa lama ayahku membuka pintu samping rumah di depan aku duduk. ia melihatku. dan menyuruhku masuk. tapi aku hanya diam sambil menahan tangis. kemudian ia masuk dan menutup pintu. tapi beberapa menit setelahnya ia datang lagi sambil bertanya apa aku sudah makan ? lalu memaksaku masuk. memegang lenganku dan menarikku masuk. air mataku turun lagi. dan tak bisa kuhapus karena begitu deras. ayah bilang, beristirahatlah dikamar.
lalu aku masuk kamar. mengganti pakaianku dan mencuci mukaku. lalu berdiri di cermin dan melihat tubuhku di dalamnya. aku menatap wajahku lama. sambil kulontarkan beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam diri. dan yang jelas, refleksi diriku di dalam cermin tak akan pernah bisa menjawab semua pertanyaanku.
setelah satu jam di kamar, aku tak bisa menahan sakit di perutku. aku keluar untuk minum. lalu makan. di meja makan, aku dan ibuku duduk berhadapan. ibuku juga belum makan padahal sudah pukul sebelas malam. kami berdiam diri. ibuku sempat melihat wajahku begitu lama saat aku sedang berjalan untuk duduk di kursi.
“Ibu sudah membuatkan jus tomat untukmu. nanti diminum ya. biar alergi di kakimu dan luka - luka di kakimu bisa sembuh,” kata ibu ketika pertama kali mulai berbicara padaku setelah ia mengusirku dari rumah.
aku hanya mengangguk mengiyakan sambil mengunyah makananku dengan paksa.
beberapa saat kemudian kami menonton tv bersama. dan seolah - olah kejadian sebelumnya tak pernah terjadi.
aku masuk kamar pukul 12 malam. kuhidupkan laptop untuk menonton film yang kusewa tadi sore. forrest gump. orang - orang bilang ini film hebat. aku mengiyakannya karena banyak dari kata - kata di dalam film ini yang menginspirasikan banyak karya film, novel dan orang. aku siap menontonnya pada pukul setengah tiga pagi. film ini memang berharga dan bermakna. ya, kehidupan itu seperti sekotak cokelat. kau tak pernah tau apa yang akan kau dapatkan. kau memang tak pernah benar - benar tau. karena di dalam sekotak cokelat ada banyak sekali bermacam - macam isi di dalamnya. entah kau akan mendapatkan cokelat isi kaca mede. atau kau mendapatkan cokelat isi buah beri. atau cokelat isi wafer. kau memangĀ tak pernah tau. dan begitu lah hidup. kau tak pernah tau apa yang akan kau dapatkan dari perjalanan panjang ini.
setelah hari ini. aku hanya ingin Tuhan memberikan kebahagiaan kepada orang - orang di sekitarku. memberikan mereka kesehatan. aku hanya ingin hidup bahagia dengan mereka. dan aku hanya ingin mereka menyadari segala hal yang selalu bersembunyi dan diam - diam. segala hal yang tak pernah benar - benar bisa terungkap karena tak memiliki daya ungkap yang benar.
aku hanya dapat menuliskan ini. aku tak bisa menceritakan ini diluar sana. karena aku yakin, jika kuceritakan ini pada orang - orang diluar sana. mereka akan bertanya dan mempermasalahkan hal - hal lain yang tidak berkaitan denganku. mereka hanya bisa menambah masalahku. karena mereka tak pernah benar - benar dapat diandalkan.
hmm… terimakasih.