pohon

tak semudah apa yang kau lihat.

tak segampang apa yang kau katakan.

dan tak secepat apa yang kau rasakan.

semua itu butuh proses.

yang memerlukan waktu untuk tumbuh dan berkembang lalu berbuahkan hasil.

tapi bagaimana kalau ternyata kau adalah sebuah pohon yang lupa diberi pupuk buah ? apakah kau akan tetap berbuah ? dan gawatnya lagi ternyata tanah tempat kau tumbuh bukan tanah yang cocok untuk membuat dirimu menghasilkan buah.

apa yang kau lakukan ?

apakah kau berharap akan mengganti tanahnya ? lalu membeli pupuk buah ?

atau kau hanya membeli pupuk buah tapi kau tak mengganti tanahnya ?

“AKU INGIN MENCARI “HIDUP” !!!”

apakah aku harus memutuskan satu keputusan untuk tetap disana atau berpindah dari tempat itu ?

hey, jika aku selalu memikirkannya lama - lama aku bisa gila. tapi aku merasa tak ada yang bisa memutuskannya kecuali diriku sendiri. saat mereka bilang, begini lebih baik dan kalo begitu lebih buruk. pikiranku bertambah kacau. aku dilanda kebimbangan dan bingung.

apakah yang namanya keputusan itu sebenarnya tidak ada. jangan - jangan ‘keputusan’ adalah sebuah kata dari kosakata yang menipu. sebenarnya kata ‘keputusan’ itu adalah sebuah kepasrahan atau sebuah keterpaksaan. karena yang kutemui sehari - hari adalah dimana keputusan yang diambil sebenarnya tak perlu dipikirkan sedemikian dramatisnya sebab keputusan yang telah diputuskan itu sedari awal telah dijalani dan sedang kau jalani. dan hahaha untuk apa kau memikirkan sebuah ‘keputusan’ yang sedang kau jalani dan kau pun akan melanjutkannya dengan memompa semangat yang kau katakan bahwa ini adalah sebuah konsekuensi dari keputusan yang kau ambil dahulu.

lalu untuk apa tiba - tiba kau membuang - buang waktu untuk memikirkan keputusan yang akan kau ambil ? karena menurutku kau baru akan memikirkannya jika kau mengambil jalan yang tidak sama, berbeda dan mungkin kau tak pernah tau apa yang akan terjadi jika kau telah final memutuskan untuk menjalani jalan yang berbeda dari keputusanmu sebelumnya. tapi apa yang terjadi ? kau kembali menjalani keputusanmu sebelumnya karena kau menganggap ini adalah konsekuensi atau sebuah bentuk tanggungjawab karena kau telah memilih keputusan ini sebelumnya. baik dan buruk kau tanggung sendiri karena ada banyak manusia yang mengatakan dan menyemangatimu bahwa “ini adalah sesuatu yang tertunda. kau akan mendapatkan hal yang setimpal dengan usahamu untuk terus berjuang dijalan ini dikemudian harinya. kau pasti akan puas !”

APAKAH PILIHAN JUGA SEBENARNYA TAK PERNAH ADA ?

mungkin kata “pilihan” adalah sebuah kata yang menipu juga ? seseorang berkata “ini adalah pilihanku” kurasa dia mengatakan hal demikian karena memang dia merasa tak ada pilihan yang lain karena dia merasa inilah yang terbaik.

kurasa semua berjalan atas kemauan kita yang telah direstui oleh Tuhan. dan semua memang tercipta, terlahir seperti adanya. kau tak mungkin memutuskan untuk memilih ratu sejagad untuk menjadi pengantinmu kan ? karena kau merasa tak ada pilihan untuk memilih ratu sejagad sebagai pengantinmu.

tapi entahlah. mungkin aku berkata begini karena aku frustasi dengan orang2 disekitarku dan dengan apa yang kubaca2. mereka selalu menyarankan untuk memilih apa yang sedang diemban atau yang sedang kau pegang kau pertanggungjawabkan atau kau jalani. padahal kau merasa tidak nikmat dan tidak bahagia disana. aku merasa seperti membunuh diri sendiri jika terus - terusan mengandalkan azas itu. aku seperti tak memiliki diriku sepenuhnya. aku seperti hilang. tidak hidup. apakah aku harus menunggu diriku lenyap secara perlahan - lahan sampai aku mencintai apa yang sedang kujalani karena aku merasa tidak memiliki cinta disana dipekerjaan itu ? sampai kapan aku menunggu dan menemukan cinta disana ?

yang jelas cintaku di dunia adalah keluargaku. aku mungkin sudah menemukannya. lalu apakah aku menjadi orang yang kejam dengan mengambil keputusan yang membuat mereka tidak simpatik ? tapi jika aku tidak pergi dari sana, aku merasa menemui kemunduran yang pelan - pelan melahap tubuhku sejengkal demi sejengkal lalu hilang.

ini adalah satu kata yang jujur dariku dan tak pernah aku lontarkan kepada siapa pun diluar sana karena aku takut dianggap aneh.

“AKU INGIN MENCARI “HIDUP” !!!”

tapi aku tak menemukan ‘hidup’ ditempat itu, karena aku tak mampu menggambarkan apa yang ada diujung jalannya. apakah aku harus mencarinya ditempat yang lain ?

sssstttt…. tak perlu kau bicara.

hey, orang - orang tak akan pernah tau apa yang sebenarnya kau rasakan. mereka hanya bisa menerka dengan pikiran mereka yang sempit. mereka hanya bisa memandang kasian atau jijik pada apa yang kau lakukan saat mereka pikir kau tidak normal.

padahal kau tak pernah melakukan apa pun yang merugikan mereka. kau hanya selalu berusaha memperbaiki dan menjadi lebih baik untuk dirimu sendiri. mereka hanya tak mengerti caramu memikirkan sesuatu dan caramu bertindak. mereka tak pernah tau apa yang akan kau lakukan dengan dirimu sendiri.

mereka hanya bisa melihat apa yang terlihat. dan tak bisa melihat apa yang tersembunyi. mereka mengeluarkan perkataan yang mereka anggap memang nyata tapi mereka tak bisa memikirkan apa yang mereka tak pernah tau.

aku memilih diam dari pada menjadi orang - orang pintar yang salah berkata, salah bertindak dan salah melihat mencitrakan satu bentuk. tapi mereka terlalu banyak omong. hingga mereka hanya menghasilkan perdebatan yang sia - sia. mereka selalu berpikir, banyak bicara maka kau akan dipandang.

tapi yang kubutuhkan mereka harus diam. agar aku dapat menyesuaikan diri setelah aku melampaui peperangan dalam batinku. tapi mereka selalu sok tau. menganggapku aneh. membicarakanku dikedai. tertawa.

apa yang aneh dari seorang mahasiswi yang meliburkan dirinya hingga 1 minggu ? entahlah. entah apa yang ada diotak mereka. dari dulu aku memang tidak menyukai mereka. dan mereka pun tak pernah menyukaiku.

padahal aku tak pernah mengganggu mereka. dan aku selalu bersikap baik pada mereka. setidaknya mereka harus belajar untuk bersikap diam. jangan sok tau. karena ini urusanku. bukan urusan mereka. toh aku tak pernah mengganggu hidup mereka.

mungkin aku terlalu peka ? atau aku terlalu naif ?

senja yang tumpah ke atas kepalaku

aku bosan terus terusan beradu pendapat dengan ibuku dengan ayahku tentang banyak hal terutama tentang apa yang kulakukan. mereka selalu mengatakan aku salah. aku selalu salah. tiap detik ya hampir tiap detik mereka bergabung memberiku berbagai nasehat yang sebenarnya sudah sangat sering aku dengar. suara mereka seperti kaset lama yang diputar terus menerus.

aku rasa, orang tuaku tak pernah benar - benar tau apa yang aku pikirkan. mereka selalu melihat diriku dari luar. mereka tak pernah tepat bila menafsirkan bagaimana isi hatiku. ayahku suka sekali mengatakan secara langsung pendapat2 salahnya tentang aku. aku ini begini lah aku ini begitu lah. aku adalah bla bla bla. aku begini begini. setiap saat. setiap ia melihatku di dekatnya.

ibuku kadang menjadi malaikat untukku kadang juga menjadi sesuatu yang menyebalkan atau menakutkan untukku. ia selalu berubah - ubah. aku selalu terkejut setiap kali sikapnya berubah. setiap kali tiba - tiba ia marah besar. kemarahannya selalu berangkat dari hal - hal yang sepele. yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan. semua tentang aku.

aku tidak suka terlalu diperhatikan. diperdulikan dari yang lain. aku tak mau kecanduan omelan - omelan. aku juga tak ingin dipaksa untuk begini dan begitu. mereka selalu bilang “agar aku menjadi lebih baik” atau “agar aku sehat”. tapi mereka tak pernah tau sebenarnya aku juga mengupayakan apa yang mereka inginkan. hanya saja semua butuh proses. sesuatu akan berkembang selalu dimulai dengan tahap awal. tidak langsung jadi. dan aku memang sangat lamban menuju proses itu. mereka hanya butuh bersabar. tapi mereka tak pernah mengerti. atau aku yang tak pernah bisa mengerti dengan sikap terlalu peduli mereka ?

akhirnya ibuku melontarkan kata - kata yang mengecewakanku. beliau suka sekali menghancurkan moodku yang baru saja terbangun baik. baru saja memulai tahap dari proses itu. menghancurkan semangatku untuk bangkit secara tak langsung. dan dia tak pernah sadar dia selalu membuatku putus asa.

hari minggu tanggal 26 april aku mencoba menjauh dari rumah dimulai pada pukul 14.30. dengan ucapan “aku pergi” aku membuka pintu rumah dan segera menaiki sebuah angkot. aku mencoba menahan air mata selama perjalanan entah kemana tanpa tujuan.

hey, aku sedang menjalankan perintah ibuku untuk pergi dari rumah jadi aku tak perlu sedih karena aku sedang mengerjakan perintahnya untuk pergi dari rumah. aku tak mau yang kulakukan ini disebut kabur dari rumah. karena yang kulakukan ini adalah perintah ibuku yang dengan suara super keras ia mengatakan padaku “pergi saja jauh - jauh dari rumah ini !!!” ketika ia sedang didapur setelah ia memarahiku tentang kamarku.

ya aku sedang pergi. pergi kesuatu tempat. aku ingin pergi sangat jauh dari tempat ini. aku ingin keluar dari kota ini. tapi aku tak memiliki uang cukup untuk benar - benar pergi. maka aku hanya berkeliaran tidak tau arah diseputar kota. berdiri berjam - jam di Gramedia. lalu naik angkot menuju tempat sewa film, disana aku menyewa beberapa film bagus. kemudian dari situ aku kembali menaiki angkot melewati Gramedia menuju sebuah plaza yang sesak dengan manusia. setelah dari hanya mondar - mandir di dalam sana aku tak tahan dengan keramaian aku pun menaiki angkot lagi menuju sebuah toko buku dekat pasar. disana aku menjelajahi semua buku - buku yang ada. membaca tiap judulnya untuk menemukan buku yang mengenak feelingku. akhirnya setelah lebih kurang dua jam aku membeli novel karya Puthut Ea yang berjudul “cinta tak pernah tepat waktu”. aku suka covernya. aku juga suka judulnya. sebelumnya aku tak pernah membaca satu karya pun yang dimiliki Puthu Ae. padahal ia ada di list friendku di fb.

setelah dari sana aku merasa lapar. aku blm makan siang. padahal hari sudah pukul lima sore. maagku kambuh. aku mencari tempat makan. aku mengelilingi dan mencarinya dengan manaiki angkot. tapi aku selalu mendapati tempat itu penuh berisi puluhan manusia. akhirnya aku memilih untuk menahan lapar dan sakit. separuh uangku sudah habis untuk ongkos. separuh perjalananku dihabiskan di dalam angkot. berputar berkali - kali. melewati jalan yang sama bisa dalam 3 kali lewat. bahkan aku bertemu dengan supir yang sama. aku melihat berbagai macam karakter penumpang. mulai dari dua orang anak kecil berumur kurang dari 6 thn di titipkan bapaknya dalam angkot dan hanya mengatakan pada supir “antar anak - anak ini ke bla bla bla” lalu sibapak pergi meninggalkan 2 anaknya yang duduk lugu di depanku. di dalam angkot.

aku juga bertemu dengan ibu - ibu yang memborong sayur mayur begitu banyak hingga memenuhi isi angkot. bapak - bapak yang berpenampilan aneh. remaja - remaja cewek yang centil menggosipkan si supir yang menurut mereka tampan. dan dua orang ibu - ibu yang menceritakan tentang orang - orang yang mereka kenal. aku selalu duduk di sudut angkot. menyendiri. merenungi. melihat dan mendengar.

pikiranku berkecamuk. tak mau berhenti. di dalamnya ada masalah - masalahku. juga ada orang - orang yang sedang kulihat. semua pembicaraan - pembicaraan mereka. gerak gerik mereka. cerita - cerita yang tak pernah aku tau. aku menyatukannya dalam pikiranku.

kadang, aku menikmati saat - saat seperti ini. dimana hanya ada aku dan pikiranku. sendirian. namun kadang aku merasa sakit seperti ini. merasa terasing. merasa berbeda. merasa kalah. merasa salah. merasa bodoh. dan merasa ceroboh.

Tuhan, mengapa kau menciptakanku ? dengan banyak rasa yang selalu berganti - ganti. kadang kupikir aku orang yang jahat. sangat jahat. aku suka sekali menyiksa diri sendiri. menyakitinya. melukainya. kadang aku merasa lebih baik. aku suka sekali memanjakan diriku. menyayanginya. mengerti apa yang ia mau.

apa yang harus aku lakukan terhadap diriku ? untuk kebaikanku dengan hubunganku bersama orang lain ? aku anti sosial. itulah kenyataan yang menggerogoti tubuhku. luka yang kubuat bukan karena masalahku dengan orang lain. tetapi karena masalahku dengan diriku sendiri.

mungkin aku orang yang payah. yang selalu berubah - ubah. kadang menjadi baik kadang menjadi jahat. aku bisa saja menjadi penyayang dalam seketika. aku juga bisa menjadi kejam dalam hitungan detik.

aku tak memiliki kestabilan emosi yang baik. aku membuat hidupku tidak berbentuk. tidak jelas. karena aku sendiri tak tau apa yang aku inginkan.

sudah pukul 7 malam. aku masih diluar rumah. di handphoneku bertumpuk pesan dan panggilan tak terjawab dari rumah. kubuka satu persatu. pesan dari ibu, pukul 16.56 “jee, lagi dimana ? sudah makan ? sudah shalat ?”. aku menghela nafas panjang. ibuku…

pesan ke dua kubuka, pukul 17.00 dari ayah : “jee cepat pulang. lagi dimana ?”. pesan ke tiga kubuka, pukul 18.20 dari ika adikku : “kak, kok blm pulang ? cepat pulang.” aku tersenyum.

pertengkaranku dengan ibu dengan ayah membuatku jengah. aku merasa serba salah. aku sampai tak tau harus berbuat apalagi. karena apa yang kulakukan selalu salah. padahal aku merasa baik - baik saja. aku tak pernah benar - benar salah. karena aku punya pemikiranku sendiri.

ibuku sampai bilang aku bukan manusia karena aku tak seperti kebanyakan anak - anak seumuranku yang lain. yang lengkap dengan aktivitas mereka sehari - hari. memang mereka tidak pernah seperti aku. lalu memangnya kenapa ? aku salah ? memangnya aku salah apa ? toh aku tidak seburukĀ  mereka. mereka malah lebih tidak penting dengan apa yang mereka suka lakukan. aku merasa apa yang kulakukan semua baik - baik saja. aku tak pernah melenceng dari apa yang seharusnya kuperbuat. aku memang tak seperti mereka. bahkan aku tak mengerti mengapa mereka suka sekali mencari laki - laki. bercinta dan saling bersaing entah untuk apa.

hey, aku sangat menikmati apa yang kudapat saat ini. karena aku mendapatkan banyak hal. banyak cerita berharga. banyak inspirasi dan banyak ilmu. tepatnya bermacam - macam ilmu. beratus - ratus ilmu kusatukan menjadi sebuah pemikiran yang membangun pendirianku. hanya saja aku blm pernah menggunakannya seoptimal mungkin.

dan ayahku selalu mengganggap aku tidak bisa melakukan apapun. tak ingin belajar menjadi lebih baik. tak ingin mencari ilmu yang bermanfaat. tak bisa melakukan sesuatu lebih baik. ia menganggap aku bodoh. apa aku benar - benar bodoh ? ayahku tidak suka menceritakan hal - hal baik tentang aku kepada kerabat - kerabatnya. ia selalu menceritakan hal - hal yang membuat ia kecewa terhadap aku. kadang ia tak pernah menceritakan tentang anak - anaknya kepada orang lain ketika orang - orang itu sering kali membangga - banggakan anak - anak mereka.

ayah bilang, anak - anaknya tidak memiliki kemampuan lebih. tidak seperti anak - anak para kerabatnya. ia menganggap anak - anaknya biasa saja. terutama aku. karena aku sering kali menjadi bahan olok - olokannya di saat orang lain menanyakan tentang aku. di depanku.

ia tak pernah tau betapa malunya aku melihat ia tertawa saat membicarakan tentang aku. mengejekku. mencaciku. ia tak pernah benar - benar tau bagaimana rasanya orang - orang tertawa melihatku. dan aku selalu bersembunyi dengan lekas. mengunci diri di dalam kamar hingga orang - orang itu pergi sejauh mungkin. ia memang tak pernah benar - benar tau apa yang aku rasakan. tapi ia selalu sok tau. menganggap ia selalu tau apa pun tentangku. apa yang aku rasakan.

pukul 20.00. aku masih diluar rumah. tepatnya dipasar. aku berjalan di tepi jalanan pasar yang ditimpa cahaya remang - remang dari lampu - lampu jalanan. pasar sudah sepi hanya tinggal para pedagang yang merapikan lapak - lapak mereka. aku berhenti berjalan di sebuah lapak yang menjajakan koran - koran serta majalah - majalah. kulihat satu persatu. aku memilih koran kompas untuk kubeli. karena aku tak bisa memilikinya lagi setelah masa langgananku dicabut diam - diam oleh ibuku dengan alasan menghemat biasa bulanan.

ah, berapa banyak sih pengeluaran untuk berlanganan koran dalam satu bulan ? tidak cukup seratus ribu. apa salahnya aku berlangganan koran ? apa salahnya berbagi dengan para loper koran ? memberi sedikit uang untuk pekerjaan mereka. mengapa mereka selalu memikirkan untung dan rugi ? bagiku itu sebuah keuntungan bukan kerugian.

pukul 20.15. aku sebenarnya aku memutuskan untuk melaju ke gramedia lagi. tapi aku letih. aku memutuskan untuk pulang kerumah setelah puluhan panggilan tak terjawab dari ayah, ibu dan adikku mengisi handphoneku.

aku berjalan kaki beberapa kilometer setelah turun dari angkot menuju rumahku. dari kejauhan aku melihat ayah dan adikku standby menungguku diluar rumah. aku tidak berbelok agar cepat sampai rumah dan menemui mereka. tapi aku terus melaju lurus di dalam temaram lampu jalanan. berjalan menuju komplek rumah yang terletak dibelakang rumah. dan menyusup ke bagian sampaing rumah yang sepi. yang tidak dilihat ayah dan adikku.

aku duduk di teras secara diam - diam. meletakkan tasku dan mencopot sepatuku. kakiku yang sedaritadi panas, dingin perlahan - lahan. aku duduk di teras. aku bisa melihat tetanggaku yang mengadakan acara kecil di rumahnya. di depan rumahku. di dalam rumahnya terdengar gurih suara gelak tawa. mereka saling menghibur. aku tersenyum. perbedaan terjadi di dalam rumahku. aku tak mendengar suara apa pun di balik jendela di belakangku. di dalam sana diam. sunyi. tidak seperti biasanya. tidak seperti jika aku ada di dalamnya.

ya, aku pembawa suasana di dalam rumah. suasana rumah kurasa memang bergantung kepadaku. seperti inilah jika tidak ada aku. sunyi. bukan aku kegeeran tapi ini memang kenyataannya. karena aku suka sekali menghibur keluargaku. membuat lelucon yang tidak lucu tapi mereka tertawa. membuat sesuatu yang aneh yang dapat menghangatkan suasana.

malam itu, rumahku muram. mungkin ini adalah kesalahanku. tidak, aku tak mau menyalahkan diriku sepenuhnya. ibuku ayahku juga salah. mereka tak benar - benar tau bagaimana cara memperlakukanku mendidikku. aku ingin mereka berbicara satu persatu, baik dan tenang. seperti antar orang tua dan anaknya yang sudah dewasa bukan dengan anaknya yang masih balita.

aku bukan anak - anak lagi. jelas aku bukan anak - anak lagi. tapi sepertinya mereka tak menyadari sudah berapa lama mereka membesarkanku. anehnya mengapa mereka tak melakukan hal seperti ini ketika aku masih anak - anak ? masih balita. aku merasa mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan diwaktu aku masih anak - anak. hingga kadang mereka suka sekali membiarkanku tau segalanya sendirian. dan sampai sekarang aku masih suka melakukan apa pun sendirian. mengetahui apa pun sendirian. mencari apa pun sendirian. dan mereka tak pernah menyadari telah melukaiku.

bahkan ketika aku dijadikan ……. oleh sepupuku. mereka tak pernah benar - benar tau.

dua jam aku duduk sendiri di teras tanpa mereka mengetahui dimana aku. pesan terakhir datang masuk ke handphoneku. setelah beberapa pesan dari ayah yang mengatakan akan mencariku ke rumah temanku berkali - kali. air mataku menetes lagi. lalu kuhapus lagi. berkali - kali. sampai - sampai tetangga depan rumahku bertanya mengapa aku hanya duduk diam selama berjam - jam ? aku hanya diam tak menjawab. aku hanya memberikan senyum padanya. dalam hatiku minta ia jangan menggangguku. tolong biarkan aku sendirian.

setelah beberapa lama ayahku membuka pintu samping rumah di depan aku duduk. ia melihatku. dan menyuruhku masuk. tapi aku hanya diam sambil menahan tangis. kemudian ia masuk dan menutup pintu. tapi beberapa menit setelahnya ia datang lagi sambil bertanya apa aku sudah makan ? lalu memaksaku masuk. memegang lenganku dan menarikku masuk. air mataku turun lagi. dan tak bisa kuhapus karena begitu deras. ayah bilang, beristirahatlah dikamar.

lalu aku masuk kamar. mengganti pakaianku dan mencuci mukaku. lalu berdiri di cermin dan melihat tubuhku di dalamnya. aku menatap wajahku lama. sambil kulontarkan beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam diri. dan yang jelas, refleksi diriku di dalam cermin tak akan pernah bisa menjawab semua pertanyaanku.

setelah satu jam di kamar, aku tak bisa menahan sakit di perutku. aku keluar untuk minum. lalu makan. di meja makan, aku dan ibuku duduk berhadapan. ibuku juga belum makan padahal sudah pukul sebelas malam. kami berdiam diri. ibuku sempat melihat wajahku begitu lama saat aku sedang berjalan untuk duduk di kursi.

“Ibu sudah membuatkan jus tomat untukmu. nanti diminum ya. biar alergi di kakimu dan luka - luka di kakimu bisa sembuh,” kata ibu ketika pertama kali mulai berbicara padaku setelah ia mengusirku dari rumah.

aku hanya mengangguk mengiyakan sambil mengunyah makananku dengan paksa.

beberapa saat kemudian kami menonton tv bersama. dan seolah - olah kejadian sebelumnya tak pernah terjadi.

aku masuk kamar pukul 12 malam. kuhidupkan laptop untuk menonton film yang kusewa tadi sore. forrest gump. orang - orang bilang ini film hebat. aku mengiyakannya karena banyak dari kata - kata di dalam film ini yang menginspirasikan banyak karya film, novel dan orang. aku siap menontonnya pada pukul setengah tiga pagi. film ini memang berharga dan bermakna. ya, kehidupan itu seperti sekotak cokelat. kau tak pernah tau apa yang akan kau dapatkan. kau memang tak pernah benar - benar tau. karena di dalam sekotak cokelat ada banyak sekali bermacam - macam isi di dalamnya. entah kau akan mendapatkan cokelat isi kaca mede. atau kau mendapatkan cokelat isi buah beri. atau cokelat isi wafer. kau memangĀ  tak pernah tau. dan begitu lah hidup. kau tak pernah tau apa yang akan kau dapatkan dari perjalanan panjang ini.

setelah hari ini. aku hanya ingin Tuhan memberikan kebahagiaan kepada orang - orang di sekitarku. memberikan mereka kesehatan. aku hanya ingin hidup bahagia dengan mereka. dan aku hanya ingin mereka menyadari segala hal yang selalu bersembunyi dan diam - diam. segala hal yang tak pernah benar - benar bisa terungkap karena tak memiliki daya ungkap yang benar.

aku hanya dapat menuliskan ini. aku tak bisa menceritakan ini diluar sana. karena aku yakin, jika kuceritakan ini pada orang - orang diluar sana. mereka akan bertanya dan mempermasalahkan hal - hal lain yang tidak berkaitan denganku. mereka hanya bisa menambah masalahku. karena mereka tak pernah benar - benar dapat diandalkan.

hmm… terimakasih.

hey, masih adakah hati dalam dadaku ?

apakah kita harus mengerti semua hal tentang kehidupan ? apakah kita harus mengerti semuanya agar kita menjadi manusia yang berguna dan baik ?

aku tak pernah bisa benar - benar mengerti apa arti semuanya. aku hanya bisa memahami sebatas apa yang aku pahami. dan sering kali orang - orang selalu salah mengartikan apa yang aku ungkapkan. ambigu. ya akulah ratu ambigu.

hahaha.

kau tak pernah bisa menebak apa yang benar - benar sebuah jawaban dari dalam hati seseorang. karena dia memiliki banyak rasa yang bercampur padu dan keras. susah untuk diluluhkan. itulah aku.

tapi aku sadar. keambiguan itu lama - lama membuat aku menjadi terikat dengan rasa takut. takut semua orang tidak menerimaku. takut semua orang melupakanku. takut aku menjadi berubah. takut aku kehilangan apa yang kumiliki. takut keluar dari rel yang tak pernah berhenti kulintasi. takut keluar dari kemonotonan ini. kebosanan ini. kesendirian ini. yang tidak kumengerti, aku tak pernah benar - benar tau bagaimana cara menjadi bahagia.

aku juga tak pernah benar - benar tau apa yang kumau. monoton. satu kata yang tepat menggambarkan aku. padahal aku tau hidupku monoton. dan aku harus berubah. harusnya aku mulai memilih satu hal yang tidak seperti biasanya. tapi aku takut. takut berubah. entah itu menjadi lebih baik atau menjadi buruk. yang pasti ketakutan itu adalah musuh terbesarku. aku takut berubah.

apa kemonotonan ke statisan ini telah melekat kuat dalam darahku ? sampai - sampai aku begitu menikmati kestatisan ini ?

hey, masih adakah hati dalam dadaku ?

catatan kecil

  • Retrograde amnesia: ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa.

Kedua kategori amnesia tersebut dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama. Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia).

luka dalam

aku ingin menulis apa yang sedang aku pikirkan. tapi tulisan itu tertahan di ruang hampa. mengendap menjadi air mata yang menggumpal dalam dada. (?).

hai jee, apa kabar ?

pilihan ?

kau tau, luas bumiku baru hanya berpijak dari apa yang kupijaki. hanya selebar apa yang kupandangi. dan hanya sedalam dimana suaraku masih nyaring berdengung. ya masih seluas itu lah bumi yang kutau.

kau pun pasti mengerti, ketika kita merasa bahagia itu adalah sebuah perasaan yang tidak akan pernah kekal kecuali ketika kau mati menghisap ganja. berfantasi membuat dunia yang kau ciptakan sendiri sampai mati. tak usah dipermasalahkan di akhirat akan tercampak kemana. karena semua hanyalah takdir belaka.

benar kah hidup adalah sebuah pilihan ? dimana kita selalu beraktivitas untuk selalu memilih mana yang layak dan yang mana yang tidak layak. atau yang mana yang benar dan yang mana yang salah. atau juga yang mana yang jahat dan yang mana yang baik ?

cocok atau tidak cocok kurasa semua adalah soal bagaimana kita menjalani hidup. sebab kita tak mungkin bisa berhenti tanpa mati karena waktu tak akan pernah bisa berhenti bahkan ketika kita telah mati.

hari ini kau merasa bahagia tapi esok atau beberapa jam lagi kau mungkin tidak lagi menemui rasa bahagia itu. dan sebaliknya. semua hanya soal bagaimana kita menyikapi hidup. mencari hakekatnya. memandang suatu persoalan yang selalu tak pernah lepas dari soal bagaimana kau hidup di bumi ini.

aku selalu bertanya - tanya, mengapa aku harus hidup ? mengapa kita semua hidup ? kita bisa bergerak kemana pun. kita bisa melihat apa pun. kita juga dapat memikirkan apa pun. mengapa bisa begitu ?

untuk apakah ?

untuk apakah kalau pada akhirnya kita sudah dijanjikan akan menemui dua pintu. surga dan neraka. ya, kita hidup untuk mencari kunci salah satu pintu itu. dan lagi - lagi kita harus memilih. apa kita akan berusaha mencari kunci pintu surga atau kunci pintu neraka. kurasa itu adalah wujud yang sebenarnya dari semua pilihan di dalam hidup. dari semua pilihan yang membuat banyak pilihan lainnya.

lalu aku masih ingin terus bertanya. mengapa harus demikian ? mengapa ? mengapa ada kata : tak ada pilihan lagi. *kurasa kata itu juga salah satu dari sebuah wujud pilihan. apakah benar ?

lagi enakan dengar ini

*hmm lagi enakan dengar ini. liriknya menenangkan sekali di tambah suara vocal yang wuuuh manteb.

ASA - TIKA (OST. 9 NAGA)

Sukma jengah melangkah
Nadi lelah berdenyut
Kapan kah akhir perjalanan ?

Hati yang merindukan
Sapa kawan yang pergi
Dimana asa bersembunyi

Sesal yang tak terhitung
Kubuang jauh
Sabar lah bila meski dalam mimpi

Tuhan beri petanda
Kerlingkan satu bintang
Bila ada harapan
Ku kan terus berjalan
Walau kuharus tertatih
Walau kuharus merangkak

Kabut pun tlah menyingkir
Kala doa terjawab
Sirnakan segala keraguan

Hidup tak menunggu
Tak memberitahu
Kemana kau esok kan dibawanya.

iks…

iks…

rasanya seperti menelan lidah sendiri.

iks…

getirnya.

Next Page »