hah…… aaaaaaanjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing
aku ingin sekali meneriaki itu sekuat - kuatnya. sekeras - kerasnya bukan di laut atau di hutan bukan juga di gunung. tapi disini. di depan semua orang yang kusebut anjing !
ibu, kenapa dunia ini tidak adil ?
kenapa keadilan itu tak pernah aku cicipi ?
aku lelah bu, terus menerus menjadi tong sampah !
aku lelah hanya selalu bisa diam dan hanya mampu bergeriliya dengan tulisan - tulisanku. aku lelah bu. aku jengah.
mengapa pada saat aku ingin menampakkan diri pada saat semua orang sudah puas dengan apa yang mereka dapat dariku, mereka selalu pergi dan menghindariku ? mengapa mereka tak pernah mau menerimaku ?
apakah aku jahat bu ?
apakah aku jahat ?
sejahat apa aku sehingga mereka selalu ketakutan tiap kali aku menampakkan diriku ? mengapa mereka langsung hilang dan menjauh ?
aduh buuuuuu…. aku sakit. sakit hati ! rasa perih bu. terus terusan berada di tengah manusia yang tak pernah mau mendengarkanku tapi hanya ingin aku mendengarkannya.
bu, kau bilang aku sudah hebat bisa menjadi orang yang selalu dicari orang lain untuk menjadi pendengar mereka. kau bilang, mereka tak mungkin mencari orang bodoh untuk mendengar mereka bercerita karena mereka tidak bodoh. kau bilang inilah keistimewaanmu, nak. tak apa, berarti kau menjadi paling baik karena kau mereka cari.
tapi aku seperti memakan biji duku yang berlendir dan getir. yang getir dan menyesakkan. getir.
sampai aku menyadari banjir air mata di pipiku. aku hobi menangis. menangis yang ditahan. tanpa isak tanpa suara hanya air mata yang bergumam sepi berceloteh pada dinding dingin dan berbisik pada remang lampu tidur.
buuuu… ayo ikut denganku menari dalam sunyi. kita nikmati dunia ini. hanya aku dan ibu saja. kita menari sampai letih. kita menari sambil tertawa. bu, ayo ikutlah denganku.
betapa buayan senandung tubuhmu membiru, tragis dari efek rumah kaca memanggil manggilku untuk terus menari. menari getir. lalu ia ajak aku melompat tinggi entah menuju apa. dan…… tubuhku terkulai, membiru, tragis.
bu…
bu…
bu…
ibu…
terimakasih saat kau bilang : kalo tidak ada yang mau mendengarkanmu bercerita, tak apa. selama ibu masih ada, ibu selalu mau menjadi pendengar setiamu. dan bukan hanya menjadi pendengar, ibu juga akan menjawab setiap pertanyaanmu.
aku akan berusaha untuk tetap bertahan. entahlah tanpa ibu disampingku.