kepada bianglala

kepada bianglala yang ada di sudut senja sana.
kupetik gitar dengan nada - nada hancur.
suara ku lirih mengacau petang yang sayup sayup meredam.
kepada bianglala di atas awan memerah.
kulempar pasir - pasir dari genggaman hingga hilang di udara.
disisa siang yang akan hilang, aku mendekap sepi
dan kepada bianglala  yang berputar disana.
aku termangu mencoba merobek sunyi.
menikmati kegundahan hingga lelah.
hingga hatiku membuncah.
hingga kelenjar air mataku pun mengering.
kepada bianglala yang bercahaya di gelap malamku.
rintihanku tak dapat mengoyak kelam.
sampai pada pagi kuremuk semua nostalgia di kepala
hingga hilang tak bersisa.
sampai aku tercenung tanpa tanya dan bertanya - tanya

mereka sengaja kulupakan

di jalan itu si bapak termangu di sebuah halte.
di  jalan itu mobil - mobil melaju tanpa ampun.
di jalan itu debu - debu berterbangan.
di jalan itu nyawa - nyawa berkelana.
di jalan itu tujuan - tujuan berakhir.
di jalan itu suara - suara lenyap dan hilang.
di jalan itu pekik - luka terpaku dingin.
di jalan itu banyak mata mengiba menghamba.
di jalan itu roda - roda tak kenal lelah.
di jalan itu mereka kulupakan.

sudah sekian lama aku melompat dan menggantung di atas awan.
saking lamanya, aku jadi lupa bagaimana cara kembali ke kulit bumi.
dari kejauhan, aku memandangi kerak - kerak yang menempel di permukaan bumi.
begitu hitam, begitu kotor.
sesekali aku meludah berusaha menahan muntah saat aku melihat ada sekelompok belatung terkatung - katung di laut lepas.
mereka saling berteriak, saling menjambak dan saling menggigit.
mereka kelihatan kelaparan.
di tempat yang berbeda, aku malah melihat sekelompok ayam serama jantan yang selalu membusungkan dadanya meski ia kesakitan.
mereka berjalan menuju kutub mencari wilayah tertinggi di bumi untuk menghancurkan matahari dengan suara kokokannya.
aku penat harus terus menggantung di awan dan terkatung - katung di langit hampa udara.
aku bukan burung, aku bukan hujan, aku bukan bulan, aku juga bukan bintang dan aku juga bukan Tuhan.
eh, siapa bilang tidak ada Tuhan di langit ?
lalu bagaimana hujan bisa turun dari langit ?
apa karena Tuhan menangis ?
benar kan, Tuhan ada di langit.

tunggu sebentar, aku mau mengganti bajuku dulu.
baju yang ini, kelihatan lusuh tak ada merah.