June 18, 2008
maling mangga
tadi malam, tidur sekitar jam 2an.
susah banget tidur pulas.
eh, sekitar jam 4an, gw denger kresek2 bunyi daun mangga di depan kamar kayak di injak orang.
pas yakin itu bener2 ada orang yang lagi jalan di depan jendela kamar gw yang disana ada pohon mangganya, gw teriak "HOIII !!!"
gw buka tirai jendela kamar, si maling lari lompat pagar rumah gw.
keluar dengan jalan santai. maling sial.
terus belok ke samping rumah gw, gw keluar kamar, lari ke tengah ruangan rumah menuju pintu samping rumah buat keluar ngejar maling.
eh, pas gw liat lewat jendela, si maling udah kabur pake sepedanya. gw teriakin lagi "HOII "
baru semua anggota keluarga gw bangun keluar dari kamar2 mereka.
hehehe, ini udah kejadian keberapa kali orang yang pengen berbuat kriminal di rumah gw ketanggap basah ama gw.
ngomong2 ada apa dengan gw ?
mengapa selalu gw ?
yang tau semuanya ?
anggota keluarga gw, sampai nyebut gw satpam rumah *euh !!
dari pada satpam mending bilang cewek jagoan :=)
June 17, 2008
merah jambu
rasanya sudah berhari2 "penyakit" malas ngomong ku kambuh.
hingga jarang buka ym.multiply.liat fs cuma liat pesen2.g pernah ngebersihin email dari pesan2 yang menyampah.
rasanya semua mulai menghakimi.
rasanya rasanya….. muak.
ah aku rusak.
capek.
pajang aja sekalian warna pink biar tambah eneq.
warna menyebalkan.
rasanya terlalu manis hingga bikin batuk2.
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……
sakik kapalo waaaaaaaaaaak !!!!
Filed by teruteru-bozu71 at 6:27 am under Uncategorized
1 Comment
June 12, 2008
ow ow ow….
hahaha, kali ini di kampus gw resmi punya gank.
ajegile gank bo` kelompok pertemanan yang menjijikkan.
gw g suka punya gank.
tapi yah, kalo gw g punya gank mau tak mau gw harus berusaha apa pun di kampus sendirian.
karena orang2 dalam kelas semua pada punya gank, g ada yang netral.
kelas kolot !
gw benci kelas gw.
dimana di sana hidup manusia2 egois berhati busuk.
yang selalu membicarakan aib orang bersama2 di belakang.
dimana mode2 norak berkumpul membentuk persatuan.
kelas terkutuk.
seandainya gw bisa memilih, gw lebih memilih g ada kelas dari pada ngeliat tampang2 mereka yang kayak pengen saling nerkam.
perang gerilya setiap hari.
dosen biadab yang suka menebar janji2 palsu.
yang tujuan ngajar cuma buat menebar pesona padahal otak jongkok suara kemanyu kayak kuda kejepit.
okeh, gw mencaci dosen gw sendiri.
tapi pada kenyataannya gw g suka kuliah di sana.
dan mau tak mau gw harus bertaruh dengan waktu, sampai kapan gw bisa tahan hidup disana.
semua demi ortu.
Filed by teruteru-bozu71 at 8:08 am under Uncategorized
1 Comment
June 11, 2008
mata yang menyipit bukan pertanda dia cina.
dia mengantuk.
mengerjap - ngerjap seperti lampu kuning pada trafik ligth.
sesekali mulutnya terbuka lebar bukan karena ada sesuap nasi.
dia mengantuk.
kepalanya manggut - manggut seperti menyetujui.
dia mengantuk.
nenek tua duduk di kursi roda.
memegang koran yang hanya di pandang sebagai dongeng pengantar tidur.
nenek tua duduk di kursi roda.
sudah waktunya berbaring di tempat tidur nyanyikan nina bobok dengan cucumu.
Filed by teruteru-bozu71 at 8:41 am under Uncategorized
1 Comment
June 8, 2008
cerpen : Larasati ku
Arak – arakan para demonstran itu terus maju ke arah kantor DPRD. Siang ini siang yang sangat terik. Sengatan matahari seperti mampu menembus ubun – ubun kepala. Bukan lah perkara yang mudah berdiri sambil menenteng spanduk yang bertuliskan “Turunkan harga BBM” di tengah massa yang bergulat dengan panas aspal dan hawa menyengat dari matahari.
Aku masuk pada barisan mahasiswa dengan jaket kebangsaannya yang berwarna hijau, UNAND. Aku berdiri di barisan paling depan yang di hadapanku ada sebuah pagar betis tertata tegang di depan kantor DPRD.
Adalah hari Senin dimana mahasiswa di kampusku memblokade jalur bus kampus dan tidak memperbolehkan mahasiswanya belajar tapi harus ikut berdemo untuk menolak kenaikan BBM. Semua adalah keputusan para petinggi mahasiswa.
Dan adalah hari senin di mana aku berdiri memegang spanduk bisu dengan keringat tajam nyaris membasahi semua permukaan kulitku. Di sampingku Syahrul teman sefakultasku berdiri dengan sebuah toa di tangannya. Sedari tadi ia tak henti – hentinya mengeluarkan kata – kata “Turunkan harga BBM atau tolak kenaikan BBM” sambil berteriak lantang ke arah pagar betis kaku itu.
Aku hanya diam dan hanya menjawab dengan tulisan spanduk yang aku pegang. Aku merasa, mau aku bunuh diri di hadapan presiden pun BBM tidak akan turun. Jadi lebih baik aku diam, menghemat tenaga agar kelak setelah orang – orang tua itu tumbang dan habis, aku atau para generasi muda yang kritis bisa langsung menggantikan mereka untuk mengubah jalan kehidupan bangsa dan memperbarui segala sesuatu yang melenceng dari dasar – dasar hukum.
Setidaknya itu adalah tujuanku. Walau mungkin apalah artinya seorang mahasiswa kecil dari kalangan yang bukan siapa – siapa. Semua memang terlihat miris.
“Iman !”
Detak jantungku menjadi lebih cepat saat suara dan sentuhan sebuah tangan di pundakku itu menghentakkan lamunanku di tengah hiruk – pikuk para demonstran. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat sosok ayu nan manis tersenyum padaku. Wajah putih halusnya terpajang indah. Rambut hitam legam panjangnya berkilau gemerlap di bias sang raja siang. Dia Larasati. Gadis yang sudah dua tahun terpenjara di dalam hatiku. Gadis yang sudah membunuh rasa kesepianku setelah di tinggal mati cinta monyetku sewaktu SMA. Gadis yang mampu melekukkan sebuah senyuman tulus di wajahku. Larasati.
“Eh, Laras ? Ngapain kamu disini ? Bukannya udah aku minta jangan ikutan ?” tanyaku heran mengapa hawa cantik ini ada di kerumunan yang mayoritas di penuhi oleh kaum adam.
“Aku cemas ama kamu, Iman,” jawab Larasati.
“Iya aku tau, tapi kamu kan nggak harus datang terus nyari aku. Bahaya !” teriakku karena suara beratku tak mampu terbang dan menggema di telinga gadis itu.
“Apa ?” tanya Larasati mendekatkan telinganya ke dekat mulutku.
“Udah – udah, kamu pulang sana. Atau duduk – duduk di bawah pohon aja liatin orang demo. Ya ?” ujarku.
“Iya. Aku tunggu kamu di bawah pohon sana,” jawab Larasati sambil menunjuk pohon yang dia maksud.
“Oke !” cetusku lalu melihat punggung gadis itu berjalan menuju pohon yang ia tunjuk dan hilang di kerumunan para demonstran.
Namun dalam hitungan detik, suasana demonstrasi berubah total. Syahrul yang berdiri di sampingku maju tanpa ragu ke arah pagar betis tuli itu. Semua demonstran mengikutinya dari belakang dan saling berpacu menembus pertahanan aparat. Aku yang hanya terpana diam tak bergeming mau tak mau harus mengikuti arus pergerakan massa bila aku tau mau menjadi seperti keset kaki di depan toilet yang di injak – injak dengan biadab.
Aku berlari mengikuti arus kaki – kaki penuh semangat yang berkobar – kobar pada idealisme. Aku mengikuti mereka dengan pandangan kosong karena kakiku hanya berjalan tanpa tujuan. Spanduk yang kugenggam erat tadi lepas entah kemana. Badan – badan yang di selimuti jubah hijau itu berhamburan brutal seperti gelombang tinggi yang meluluh – lantakan. Aku merasa sendirian.
Larasati. Dimana Larasatiku ? Apakah ia masih menungguku dengan setia di bawah pohon yang ia tunjuk tadi ? Larasatiku, apa kabarmu kini ?
Prang !!!
Sebuah bunyi yang cukup dahsyat di telinga pecah di tengah kerumunan mahasiswa berjubah hijau. Kaki – kaki itu berlari kacau ke semua arah. Kaki – kaki tanpa mata itu berlari tanpa memperdulikan apa yang mereka injak.
Asap mengepul di tengah kerumunan yang sudah kacau balau.
Asap dari sesuatu yang dilemparkan para aparat untuk mengamankan massa. Semua menjadi lebih kacau. Para demonstran memanas. Spanduk – spanduk yang mereka angkat – angkat kini mereka banting ke atas aspal hitam yang tak bersalah. Seperti lamanya waktu mengedipkan mata, mereka bergerak dengan berlari ke arah para aparat yang membuat pertahanan pengganti pagar betis yang sudah rusak.
Aku terbawa arus massa yang kesurupan arwah pahlawan – pahlawan. Massa yang membanting spanduk – spanduk bisu. Massa yang bersorak kesetanan dengan teriakan “Turunkan harga BBM”. Massa yang berani melibas apa saja atau siapa saja yang menentangnya. Massa yang menyemangati keinginan rakyatnya.
Aku tak bergeming. Aku hanya menantap ke semua arah. Melihat Syahrul mendorong – dorong aparat. Melihat semua orang berorasi bebas dengan membakar ban, berteriak – teriak dan memaki – mencela janji – janji pemimpin bangsa yang malang ini.
Larasati. Lagi – lagi aku teringat akan Larasati. Gadis yang lebih tinggi nilainya dari berlian murni. Dari mana pun. Larasatiku, apakah dia baik – baik saja ?
Seketika aku membuat sebuah keputusan akhir. Aku mundur dari perhelatan hebat ini. Mundur dari demonstrasi ini. Kalau saja aku tidak melihat Larasati ada di sini tadi, mungkin aku sudah ikut Syahrul berteriak – teriak di telinga para aparat seperti yang sedang ia lakukan sekarang.
Aku berjalan ke arah yang berlawanan dengan massa yang bertumpah - ruah mencoba merapikan barisannya kembali. Aku berjalan ke arah pohon sakral yang Larasati tunjuk.
Manusia demi manusia sudah aku lewati. Perjalanan menemukan Larasati membuatku sesak napas. Kerumunan massa itu terlalu sempit dan pengap. Padahal langit tinggi sedang bebas menaungi mereka.
Tak kutemukan Larasati di bawah pohon Beringin yang ia tunjuk itu. Tak ada siapa – siapa disana. Di sana hanya seorang penjual batagor yang duduk bengong memperhatikan para mahasiswa beraksi membela kepentingan kaumnya. Tidak ada Larasati di bawah pohon itu.
Dalam hitungan detik, firasat burukku menyeruak dari dalam sanubariku. Larasatiku, kemana dia ?
Aku bingung dan panik. Kumpulan massa yang kacau di belakangku bertambah garang. Mereka mulai saling lempar batu ke aparat. Mereka melempar apa saja yang mereka dapat. Penjual batagor di bawah pohon itu pun berlari panik membawa semua dagangannya. Sedang kan aku hanya berdiri panik tak tentu arah. Aku kehilangan Larasati.
Tanpa pikir panjang aku mengaruk sebuah handphone tanpa kamera dari dalam kantong celanaku. Nomor Larasati yang kupajang di deretan nomor dua setelah nomor ibuku di daftar telpon, kuhubungi.
Tak ada jawaban.
Dan tak di angkat.
Untuk kedua kalinya aku kembali menghunginya.
Sama.
Tak ada jawaban dan tak di angkat.
Aduh, Larasatiku…. Kemana kamu ?
Dan untuk ketiga kalinya aku kembali menghubunginya.
“Iman, Iman… tolongin aku,” ujar suara dari balik handphone.
“Ras ? Ras dimana kamu Ras ?” tanyaku panik.
“Iman, Iman… tolongin aku. Aku nggak dengar suara kamu. Tolong aku Iman,” ujar suara itu separuh merintih seperti kesakitan.
Aku semakin panik. Mataku liar meneliti setiap jengkal sudut yang kutemukan. Deru napasku memacu kencang. Aku panik wahai Larasatiku. Aku takut kehilanganmu wahai Larasatiku.
“Ras, kamu di tengah orang demo ?” tanyaku dengan volume suara yang lebih kuat dari yang tadi.
“Iman, kamu kemari cep….. tut… tut… tut..” Larasatiku hilang dimakan massa.
Tubuhku gemetaran mendengar pembicaraan itu putus begitu saja. Apa yang terjadi dengan Larasatiku ? Dengan cepat aku kembali menembus kerumunan pasukan hijau itu. Menelaah setiap bilik – bilik manusia berharap aku menemukan sesosok bidadariku di antara para pasukan yang kesurupan arwah pahlawan – pahlawan.
Sungguh, aku tak mau apa yang terjadi dengan Pelita cinta monyetku di waktu SMA terjadi juga dengan Larasati. Hanya bedanya, nyawa Pelita direnggut oleh malaikat maut pada sebuah kecelakaan bus yang kami tumpangi sewaktu merayakan perpisahan sekolah. Saat yang sangat berat dalam hidupku ketika aku harus melihat tubuh mungil yang sudah kaku berlumuran darah itu di angkat dari balik bus yang sama – sama kami tumpangi. Pelitaku sudah tiada. Dan aku tidak mau tiba – tiba harus melihat tubuh Larasati kaku berselimuti merah di angkat di antara tubuh – tubuh yang tumbang karena buah dari perjuangan mereka.
Bisa gila bila aku melihat Larasatiku terbujur kaku bersimbah darah. Bisa gila !
Aku berlari sambil mengedarkan padanganku keseluruh arah. Mengincar sebuah wajah yang selalu aku puja – puji. Tapi yang aku temukan hanya suara – suara lantang dari darah muda yang sedang panas mengalir ke ubun – ubun. Mereka membakar segala peraturan yang bernama hukum dan norma. Merobohkan pagar betis yang tersisa. Menempeleng helm dingin milik kepala batu aparat. Berusaha meretakkan tameng yang di genggam aparat. Bersikeras menolak kenaikan BBM. Hanya saja mereka tanpa Larasatiku.
Kerumunan itu semakin berubah menjadi seperti neraka. Tak terlihat mana yang teman atau lawan. Aparat yang sedari tadi memegang tamengnya, kini bangkit dan berlari mengejar para mahasiswa. Aparat sepertinya ingin mencari provokator di antara mahasiswa.
Syahrul teman sefakultasku tertangkap di sudut kerumunan sana. Aku melihat ia di gelandang, di seret dan di paksa berjalan beriringan dengan sekelompok aparat yang menangkapnya. Syahrul sang provokator telah di tangkap. Jelas ini bukan akhir dari perjuangan talak tiga para mahasiswa. Seperti hakim mengetuk palunya, seperti itu juga massa yang terdiri dari mahasiswa berjubah hijau kembali berhamburan ke satu arah. Membawa segala macam benda yang mereka temukan. Melemparkannya. Menghunuskannya. Dan membantingkannya. Tanpa ampun. Tanpa rasa dosa.
Dengar Tuhan, aku sudah hampir gila. Mana Larasatiku Tuhan ? mana gadis itu ? datangkan dia untuk ketenangan batinku Tuhan. Selamatkan dia. Mengapa kau mengajak dia kemari Tuhan ? mengapa ?
Aku hampir putus asa saat sebuah benda tumpul itu bergenderang di balik telingaku. Menyentuh dengan kasar ubun – ubun kepalaku. Merobek paksa kulit dan daging di tengkorakku. Mengusir darah merah keluar dari pembuluhnya. Menggelapkan pandanganku untuk melihat Larasatiku nanti. Memukul jasadku bertubi – tubi kejamnya.
Aku hilang. Larasatiku hilang. Napasku lemah. Jantungku putus asa. Otakku diam. Mataku seperti buta. Tuhan, sebenarnya apa rencanamu ?
***
Pagi ini aku melihat burung – burung gereja itu bertengger di balik jendela kamar rumah sakit. Ketika aku mendapati seorang bidadari di hadapanku sedang memaksaku untuk mencicipi buah jeruk manis yang di bawanya untukku, aku sudah kembali tenang.
Larasati selamat dalam demonstrasi berdarah itu. Luka – luka yang ia dapati tak separah luka yang aku alami. Aku mengalami geger otak ringan. Pukulan benda tumpul yang entah dari siapa itu membuat batinku beristirahat sementara waktu. Sampai akhirnya aku kembali melihat senyum indah itu menari – manari di hadapanku kini.
Aku mengecap manis jeruk yang ia kupaskan untukku. Pandanganku menerawang ke luar jendela, ke angkasa biru dengan awan – awan putihnya. Andai saja aku benar – benar kehilangan Larasati, pikirku tanpa ada yang menjawab.
“Iman, jangan ikut – ikutan yang kayak gitu lagi ya ?”
Suara Larasati membuyarkan lamunanku. Aku melihat tangan kanannya memegang kepingan jeruk yang ingin ia suapkan ke dalam mulutku yang di tepinya tergores luka.
“Kamu yang jangan ikut – ikutan aku demo lagi. Aku cemas tau !” ujarku geram.
“Iya – iya. Aku nggak mau lagi deh ikut – ikutan demo. Ngeri,” jawab Larasati dengan ekspresi ketakutan yang di buat – buatnya.
Aku tertawa saat melihat sederetan gigi – gigi kecilnya yang rapat itu ia pamerkan supaya kata – kata yang ia keluarkan terkesan mengerikan. Ia gadis yang nyaris sempurna dengan dianugrahi mata sebening air telaga. Benar, bisa mati gila bila aku kehilangan bidadari ini di tengah manusia – manusia yang tanpa norma.
Pagi ini begitu sejuk. Pancaran matahari seperti tak langsung jatuh ke bumi. Ke aspal – aspal jalanan yang perih. Pagi ini seperti pagi yang habis di guyur hujan. Begitu harum. Begitu tenang. Pagi ini adalah pagi ketika wajah manis itu kutatap lekat – lekat.
“Ras, kamu tau apa yang aku pikirin waktu nyari kamu di sana waktu itu ?” tanyaku sambil menggenggam tangan halusnya.
“Hmm, coba aku tebak. Mungkin kamu kira aku di apa – apain orang. Iya kan ?” jawab Larasati sambil mempersembahkan senyum syahdunya untukku. Ya, hanya untukku.
“Waktu itu aku pikir, lebih baik aku buta bila harus ngeliat kamu tidur bersimbah darah di antara yang lain. Lebih baik aku tuli, dengar kamu hilang. Lebih baik aku… tidak bernapas lagi daripada harus kehilangan napas kamu. Larasati,” ungkapku sambil mencium tangannya penuh rasa syukur.
Syukur karena aku masih bisa menyentuh tangan ini. Syukur karena aku masih memilikinya. Larasatiku.
Bidadariku.
***
June 7, 2008
bukan penguasa waktu
tak perlu direnungkan lagi.
sisa - sisa keputus-asaan yang sia sia.
bukannya hanya sekedar mencekik leherku sampai putus tapi malah mencuci otakku hingga kandas dan hilang semua rekaman2 gelak canda suci itu.
dahulu memang sangat putih dan kini terjadi samar - samar.
begitu muaknya aku kepada sang waktu yang memang tak bisa kembali mundur dari lintasannya.
tak bisa menambal kepingan - kepingan yang rusak dan kotor.
kecacatan yang maya.
apa salahnya aku mencoba sedikit melompat dari malam ke pagi.
atau dari pagi ke malam.
maaf saja kata sang waktu, kamu bukan penguasa detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dan abad.
iya, aku bukan penguasa waktu.
aku hanya manusia nista yang mencoba memperdaya waktu.
waktu yang telah aku buat cacat itu.
waktu yang telah mengotori sel - sel di otakku.
waktu yang telah aku telan mentah - mentah tanpa bumbu.
waktu yang telah membawaku duduk disini tertunduk dan menjerit.
waktu yang telah menciptakan manusia tak berguna ini.
dan banyak waktu bagiku untuk diam dan melihat.
Filed by teruteru-bozu71 at 8:52 am under Weblogs
No Comments
June 2, 2008
jam 00.00 lewat dikit
pada jam 00.00 lewat dikit.
bukannya aku menyanyikan lagu selamat ulangtahun malah aku teriak2 di warnet nyanyiin lagu glen fredly yang judulnya sedih tak berujung. gila aja. hahaha.
oke, siap2 aja kantong yang udah susah payah di isi penuh besok langsung jebol gara2 teman2 kejam itu minta di kasih makan.
yah, berkurang lagi satu tahun umurku di bumi.
sembilan belas tahun, rasanya semakin sulit.
yah, biar sulit harus di hadapi.
okeh !!!
selamat tinggal kisah tak berujung…
kini kukan berhenti beraharaaaaaaaaaaaaap….
uhuk uhukk keselekkkkkk ~!!~
Filed by teruteru-bozu71 at 10:50 am under Weblogs
1 Comment