harus berhenti disini ?

akhir bulan mei.

akhirnya kota padang tidak perlu menunggu kebakaran hutan akibat kemarau berbulan - bulan. cuaca yang kurindukan telah datang. anehnya dia datang pada saat aku memajang teruterubozu terbalik di layar komputer tempat aku bekerja dan melihat dunia yang sulit aku mengerti.

hujan.

sudah lama aku menunggunya. sejak aku prihatin melihat sungai besar di depan rumahku di penuhi sampah karena tersangkut pada dasar sungai yang dangkal. aku tidak suka pemandangan kotor itu.
setiap kali aku melewati rumah, setiap kali itu juga aku menatap sungai besar itu. kasian.

sedih.

bulan mei adalah bulan yang berat untukku. untuk pembentukkan pikiranku. untuk masa - masa yang sulit kuperdaya. mungkin selama tujuh hari di akhir bulan ini aku mencoba untuk merenungi semua hal sendirian. tapi pelan - pelan aku menyadari, ternyata aku lari dari mereka. mereka yang ada dalam kehidupanku. baik teman - teman kampusku yang setiap kali bertanya mengapa akhir2 ini sikapku dingin. mereka yang sedarah denganku, yang selalu mengoceh tentang hal yang sama setiap detik, menit, jam dan hari. dan tak lupa juga mereka yang orang - orang dari dunia maya, yang telah memberiku sedikit banyak pengaruh super dahsyat dalam otakku.

bingung.

di bulan mei pada tanggal akhirnya. aku tak tau harus bagaimana lagi. aku tidak pernah menemukan apa yang kucari. di akhir bulan ini, ada barang - barang menarik yang ingin kumiliki. novel, novel lagi, dan sebuah miniatur teruterubozu. hmm, sedikit banyak. dan semua sudah kembali kucari pada tempat yang sama. dan semua yang aku cari, sama sekali tak bisa aku dapatkan. semua hilang… saat aku menyadari semua yang ingin aku miliki hilang, saat itu juga aku merasa di sindir dan di uji. semuanya hilang. bukan dengan apa yang ingin aku miliki saja. tetapi juga dengan apa yang sudah aku punya dan aku berikan, semua hanya sampah. yang setelah di pakai akan dibuang. hanya sampah.

teman.

aku tak mengerti dengan pikiranku. teman - temanku adalah orang - orang yang menarik, unik dan jenaka. mereka bisa membuatku tertawa terbahak - bahak. membuatku gila. kadang mereka juga bisa membuat kubodoh. yah, teman. yang pada hari itu, pada malam itu, ketika aku merasa hancur. bercucuran air mata. terbaring sesal di atas tempat tidur. dan ingin memiliki seseorang yang bisa menghibur. maka aku hubungi temanku. dua sms pun dia balas. tetapi sangat singkat. ya, pesan yang sangat singkat. irit. dan pendek. tak ada arti apa pun. malah terkesan dingin. saat aku katakan aku akan kabur dari rumah dan menginap di kostsannya. dia tidak pernah membalas. kukira dia shock. jadi aku katakan aku hanya bercanda. ya, aku hanya bercanda. sekali lagi aku memang hanya bercanda. tapi, saat aku membaca balasannya, aku tercekek. temanku mengatakan hal itu sama sekali tidak penting. dia tau aku bercanda dan dia tak perlu membalas sms yang hanya akan membuat pulsa seratus ribunya habis.

semua ini membuatku gila.

teman, keluarga, apalagi yang kumiliki ??? tidak ada. aku menyadari betul bahwa aku sama sekali tidak memiliki apa - apa. aku sendirian. ya, sendiri. begitu hitam. begitu gelap. hahaha. hitam. tidak, aku bukan hitam. aku abu - abu. eh bukan, aku ini putih. yah, apalagi putih. tidak aku bukan putih. aku… aku… aku… hmm… entah lah. aku hitam. aku putih. dan aku abu - abu. bagaimana aku memilih untuk menjadi merah ?

untuk menghibur hati sendiri.

pada akhir bulan mei, aku men - non - aktifkan semuanya. friendster, multiply, ym dan juga ponselku. yah, sekarang aku membenci handphoneku. si keparat yang sama sekali tidak pernah kukenal seperti bangkit dari kubur menghubungiku, mengagetkan nadi2ku setiap handphoneku bergetar tanpa bunyi, setiap aku melihat tulisan kampret di layar ponsel itu, setiap itu lah aku matikan handphone. setelah dia memaksa ingin bertemu denganku dengan sebuah ancaman bahwa dia akan mengobrak - abrik kampusku untuk mencariku. pada waktu itu aku hanya membalas smsnya dengan jawaban, "datanglah, aku tunggu kau di depan pintu kelasku. tapi jangan menyesal bila ternyata aku tidak kuliah disana." si kampret yang aku sendiri tak pernah ingin tau namanya itu seperti menyuguhkan hiburan kecil bagiku. dan itu terjadi beberapa bulan yang lalu. satu tahun yang lalu. kupikir ia sudah mengubur nomor handphoneku yang aku tak tau bagaimana ia bisa mendapatkannya. kupikir ia sudah mengubur nomor itu bersama hari2nya yang berlalu seiring dengan kekurang kerjaannya itu. tapi ternyata pada akhir bulan mei ini, dia seperti bangkit dari kubur. setiap hari nomor keparatnya itu masuk dan terpajang di layar ponselku. setiap hari juga aku membiarkan nomor itu menari2 di layar ponselku. lalu aku matikan handphone itu. bukan karena sang keparat itu kembali menghubungi tapi lebih karena… aku lari dari semua orang.

mainan baruku.

salah seorang teman waktu SMAku kembali hadir. aku bertemu dengan mereka pada acara seminar yang diadakan UNP di pertengahan bulan mei. temanku itu merekomendasikan sebuah dorama yang sangat ia sukai, tentunya karena sang aktor adalah lelaki berwajah tampan nan rupawan. Yamapi. si korosaki. kalau dilihat2 keren juga. yah, baguslah aku mendapatkan mainan baru. di akhir bulan mei ini, aku sudah menonton 2 dorama yang di bintangi yamapi. korusagi dan nobuta wo produce. jepang memang mempunyai banyak ide untuk di visualkan. hebat. aku menyukai kedua dorama itu. yamapi memang nyaris sempurna. dia sangat berbeda dengan banci2 artis jepang yang lain. yang terkesan manis tanpa kualitas. tapi yamapi tidak manis. tidak imut2. tapi dia hmm… seperti film atau dorama yang di bintanginya. hitam. haha keren. tapi ini konyol !

dasar penakut.

pada akhir bulan mei. aku menyadari, sejak awal, sejak dulu, ketakutan membuatku tak pernah maju. padahal kalau mau jujur, aku nyaris memiliki banyak talenta. dari suara, dari kuas, pensil, keyboard komputer, dan guratan - guratan di pikiranku yang membuat teman - teman kampus yang rata2nya adalah hedonis menganggapku manusia aneh. ya, ketakutan membuatku nyaris statis dan nyaris mundur. aku takut aku di bilang aneh. seperti apa yang mereka selalu katakan padaku setiap kali aku menyatakan pendapatku. aku takut aku dimaki, dicaci, dicampakkan, dijauhi karena aku aneh. lama - lama aku seperti anak autis. hidup dalam dunianya sendiri. karena aku takut orang2 mendengar, melihat, mengatakan semua yang aku lakukan. aku takut. aku takut aku tidak di akui. karena aku tau pasti, apa yang aku buat tak pernah menjadi apa - apa. selalu menjadi sampah. ya, sampah yang setelah di pakai lalu di buang.

memang sudah saatnya aku bangkit.

pada akhir bulan mei. tiga cerpen sudah berhasil aku buat. ceritanya sangat sederhana. malah terkesan klise dan sangat biasa. tidak ada apa - apa di banding yang dibuat oleh orang - orang karena cerita yang kuangkat bertema keluarga dan melaratnya hidup. dengan setting di kotaku yang panas, dikotaku yang sabar karena gempa bumi suka sekali bermain - main disini. ya, di kotaku, padang. kota yang memiliki berpuluhan rumah makan. kota yang terkenal dengan objek wisata perutnya. ya, kota di mana para remaja merasa terpenjara karena kebebasan berekspresi disini seperti di diskriminasi. mungkin karena adat orang - orangnya yang suka mencaci dan memaki. melecehkan dan mengejek. padahal mereka tidak pernah berbuat apa - apa. bahkan mereka sama dengan sampah. mungkin aku sudah keterlaluan berbicara. tapi aku geram dengan kota ini. kota dimana yang punya talenta bisa populer karena ada "orang dalam" yang bermain di balik layar. padahal si empunya talenta adalah bunga yang tak layak untuk di pamerkan. kualitas rendah. nol besar. ya, di kota ini masih ada budaya, "keluargaku di bawah ketiakku". cuih !!! aku benci orang2 korupsi seperti mereka. kotor.

kembali aku katakan, aku harus bangkit !!!

pada akhir bulan mei. aku merancang rencana yang menurutku ini adalah rencana besar. rencana dimana yang dibutuhkan adalah keberanianku. rencana yang membuat aku gemetaran setiap kali aku membayangkan apa yang akan terjadi. rencana yang menakutkan. rencana yang mungkin sangat aku impikan. rencana yang menjadi awal atau akhir dari semuanya. rencana yang mungkin menjadi cambuk bagiku untuk maju. maju lebih kedepan. maju lebih berani. maju tanpa rasa takut. dan mungkin juga rencana yang akan membawaku hancur menjadi berkeping - keping. tapi setidaknya aku harus mencicipi sedikit efek dari rencana ini. pahit atau manisnya harus aku pikirkan sesudahnya. yang penting aku harus mencoba bangkit !!! bulan depan adalah bulanku. ya, bulan depan memang adalah bulanku. bulan juni. bulan juni adalah bulanku. dimana si gemini mengajakku bersuka - cita pada tanggal tiga nanti. ya, aku berumur sembilan belas tahun pada tanggal tiga nanti. apakah itu berarti aku panjang umur ? hahaha kurasa malah tanggal itu membuat hidupku berkurang satu tahun. ya, satu tahun.

pada akhirnya.

pada akhir bulan mei 2008. pada akhirnya semua kembali pada diriku sendiri. sudah lah jee, berhenti melarikan diri. bahkan namaku sendiri enggan kusebut. sudah lah, berhenti diam. berhenti tertunduk. berhenti melarikan diri. berhenti mundur. berhentilah untuk memikirkan semuanya. sekarang, lari lah. lari kemana arah angin membawa. lari kemana hati berkata. lari mengikuti arus sungai. lari dimana hujan mengejar. lari ke arah matahari senja datang. lari dimana keputus asaan mengejar. dan berhentilah lari dari diri sendiri. pada bait ini aku terdiam beberapa detik. aku berhenti menyakiti tuts pada keyboard komputer. karena aku ingin menulis satu hal. yaitu… berhenti lah lari dari kenyataan !!!

dari sayap kota yang penuh rumah makan…

Udin menelan air liurnya di depan sate KMS yang
terletak di pinggir jalan Pattimura. Karung lusuh berisi botol - botol
plastik di tangannya sudah penuh. Hari ini Udin sedang beruntung karena
telah mendapatkan banyak botol - botol plastik yang ia kumpulkan dari
banyak tempat.

Udin pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah. dari sini ia cukup berjalan kaki menyeberangi Rasunasaid menuju

Padang

pasir. Di sepanjang perjalanan, mata Udin di suguhi dengan orang - orang yang sedang menikmati sate. Harum sate begitu menggoda hidung Udin hingga sepanjang jalan ia tak henti - hentinya menelan air liurnya.

Malam pukul delapan, Udin pun tiba di sebuah gubuk reyot yang hampir
ambruk. Lantainya beralas tanah basah yang sebagian kecil berlapis
semen dingin serta diperindah dengan sedikit sentuhan bebatuan.
Bebatuan tajam yang seakan ditebarkan untuk mengikis kotoran yang
menempel di kaki - kaki Udin dan keluarganya. Rumah yang bagi Udin
sudah mewah itu adalah rumahnya. Rumah yang sekian tahun semenjak ia
lahir telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Udin
menapaki pekarangan sempit gubuk itu. Bukan, bukan sempit tetapi
pekarangan yang hanya dihiasi dengan selokan kecil dan sudah memakan
banyak tempat penting di rumah mewahnya. Selokan yang bisa menjadi kali
besar bila hujan turun deras di

kota

Padang

. Bagi keluarga Udin, selokan kecil itu sangat menakutkan.

Udin meletakkan karung ajaibnya di samping pintu masuk rumahnya yang
sudah tidak bisa di kunci lagi. Setelah melewati pintu sakralnya, Udin
langsung berlari ke dapur yang menyatu dengan kamar juga ruang
berkumpul. Di

sana

ada ibunya yang sedang menggoreng

tempe

.

"Aku ingin makan sate, mak," ucap Udin manja.

Ibu Udin hanya diam menanggapi. Wanita setengah baya itu tetap meneruskan pekerjaannya menggoreng

tempe

.
Sarung jawa yang sudah robek dengan mantap mengikat pinggang dan
menutupi bagian bawah badannya. Sedangkan bagian atas badannya
dilindungi  baju kaos pudar  berwarna kuning dengan lambang sebuah
partai melekat dengan nyaman.

"Mak, Udin ingin makan sate. sate yang di Pattimura," pinta Udin.

   

Ibunya hanya menjawab dengan seutas senyum padu. Sedari pagi wanita

lima

anak itu berjualan sayur keliling dengan memakai kedua kakinya yang
sudah mulai rematik. Sedangkan suaminya hingga malam ini belum juga
pulang dari pekerjaannya sebagai sopir angkot.

   

Dari
ruang berkumpul rumah yang nyaris seperti kandang kerbau itu terdengar
rintihan serta tangis dari saudara – saudara Udin yang masih bayi dan
balita. Mereka mulai tidak bisa menahan rasa laparnya.

   

Mendengar
raungan kelaparan dari ke empat adiknya, Udin berhenti merajuk. Ia
memandangi saudara – saudaranya yang berguling – guling dan meronta –
ronta menghentakkan ubin semen sebagai demontrasi kepada ibu mereka
bahwa mereka sangat lapar.

   

Udin dengan pelan menundukkan kepalanya, menahan gempa yang menghantam di dalam hatinya. Raungan anak miskin, cetusnya dalam hati. Dengan sejuta rasa kesal ia mengeraskan kepalan kedua tangannya. Ini roman picisan, gerutunya. Gempita sinar lampu kota saja tidak sampai kemari, ujarnya.
Tak ada yang terang disini dan tak ada yang indah disini. Di sini hanya
ada photographi kasat mata yang terpancang miris dari sayap

kota

yang penuh rumah makan.

Padang

.

   

Padang

kota

tercinta, kujaga dan kubela’, tulisan dari spanduk lusuh itu terpajang
bebas di sepanjang ruangan rumah Udin. Spanduk itu dijadikan pembatas
ruangan oleh bapak Udin. Semua begitu klise.

   

Malam ini Udin dan keluarganya harus pasrah memakan nasi putih dengan lauk

tempe

goreng. Dengan penuh hikmat mereka duduk di lantai yang di alas tikar
keriput dan compang – camping. Sambil membentuk lingkaran, keluarga
besar itu duduk saling berhadapan.

   

Ibu Udin bertugas membagikan

tempe

yang hanya ada 3 potong untuk tujuh orang anggota keluarga. Setelah
setiap anggota kerluarga mendapatkan bagiannya, mereka pun langsung
menyantapnya dengan penuh rasa syukur. Syukur mereka masih bisa
menikmati lezatnya nasi putih dan gurihnya goreng

tempe

karena kesempatan ini kadang sama sekali tak bisa mereka rasakan.

   

Ayah Udin hanya narik
angkot bila hari tidak hujan karena ia menderita rabun jauh. Sulit
baginya melihat kejauhan pada saat hujan lebat tiba. Jadi pada bulan
ini ayahnya kadang narik kadang tidak karena bulan ini salah satu bulan yang termasuk dalam daftar musim hujan di

kota

Padang

.

   

Malam
tanpa disadari semakin larut. Keluarga besar itu pelan – pelan bersiap
– siap untuk pesta piama mereka. Mereka berkumpul di satu ruangan dan
tidur tanpa ada pembatas antar orang tua dan anak – anak. Tidur di atas
lantai semen yang dinginnya nyaris menusuk – nusuk tulang. Dengan
bantal tangan, mereka pun terlelap pada malam yang menghamba bulan.

   

***

   

Udin mengais – ngais sebuah tong sampah yang ada di depan Plaza Andalas,

sebuah

Plaza

terbesar di

kota

Padang

.
Tak jauh dari tempat ia mencari nafkah, segerombolan muda – mudi sibuk
tertawa riang gembira di depan mobil Avanza bercat hitam metalik.

 

Udin
termangu melihat orang – orang seumuran dengannya sedang asyik
menikmati hidup mereka. Hidup yang penuh dengan topeng – topeng kacanya.

   

Kembali
Udin tersadar ke alam nyatanya, ia melanjutkan pekerjaannya mencari
botol – botol plastik yang akan di jualnya ke pengumpul barang bekas.
Hasilnya lumayan cukup untuk mengisi perut keluarganya malam ini.

   

Habis
memungut botol – botol plastik dari Plaza Andalas, Udin bergerak
mencari botol – botol ajaibnya ke jalan Pattimura, jalan di mana
surganya orang – orang yang kelaparan duduk mengisi perut dan dahaga
mereka.

   

Disana, di depan lapak sate KMS idaman Udin, pemuda berumur

lima

belas tahun itu berdiri di samping keranjang sampah si tukang sate yang
penuh dengan daun – daun alas sate. Ia mengais – ngais sampah itu
sambil berharap mendapatkan banyak botol – botol plastik disana. Sambil
mengais – ngais sampah, mata Udin mencuri – curi pandang kepada
beberapa orang pengunjung lapak KMS yang sedang asyik menikmati
hidangan sate

Padang

.

   

Mata Udin semakin terpaku pada salah seorang pengunjung yang duduk di depan satu porsi sate

Padang

dengan beberapa tusuk daging sapi yang lezat. Lelaki setengah baya itu
sedang bersiap – siap memanjakan mulutnya dengan keempukan rasa daging
sate. Sate yang tadinya bertengger tiga tusuk daging kini hanya tinggal
lidi basah bekas jilatan lelaki itu. Tusukan sate itu habis tanpa
bekas. Udin pun menelan ludahnya menahan rasa laparnya.

   

Diam
– diam ia meronggoh saku celana kotornya, berharap ketika ia mengambil
receh, uangnya tiba – tiba bertambah berkali – kali lipat dari yang
dapatkan. Tapi kenyataannya, ketika Udin melebarkan telapak tangannya
yang sudah berisi uang, yang ia dapatkan hanya beberapa receh uang

lima

ratus rupiah dan beberapa lembar uang seribu. Sungguh

malang

.

   

Ia mengurungkan niatnya untuk bisa menikmati lezatnya daging – daging dari sate

Padang

itu. Ia tau, untuk setengah porsi sate saja Udin harus membayar delapan
ribu rupiah. Uang delapan ribu itu lebih baik ia belikan bahan makanan
yang nanti bisa di masak ibunya dan dimakan bersama keluarganya. Sekali
lagi, Udin berusaha melupakan keinginannya untuk menikmati sate yang
terkenal paling lezat di

kota

Padang

.

   

Gema adzan magrib menggaung di langit

kota

Bengkuang itu. Langit

kota

itu merah kekuningan. Guratan – guratan yang tercipta di atas

sana

begitu sempurna dan mempesona. Bila di lihat dari pantai, guratan –
guran senja itu seperti mengajak berkhayal pada setiap mata yang
melihatnya. Guratan – guratan senja itu begitu sempurna, begitu
mempesona.

   

Disana, di pinggir pantai

Padang

di pantai

Purus

,
Udin sejenak duduk melepas lelahnya. Pekerjaannya cukup dapat menguras
keringatnya. Di samping ia duduk, karung goni kotor bersandar di
dinding pembatas pantai dengan botol – botol plastik bekas yang
memenuhinya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Dan sebelum ia pulang
ke rumah, ia harus singgah di rumah teman hidupnya, teman hidupnya yang paling setia mendampinginya pada setiap langkahnya. Pada setiap langkahnya baik yang benar maupun yang salah. Teman yang selalu melindunginya kemana angin membawanya. Teman yang selalu ada dimana saja. Ia harus singgah di sebuah masjid dekat pantai. Ia harus singgah ke rumah temannya.
Untuk mengetuk pintu rumahNYA, untuk melihat secerca senyumanNYA, untuk
bersedagurau denganNYA, untuk berkeluh – kesah denganNYA. Dengan dia,
sang pencipta segala – galanya.

   

***

   

Malam
makin larut. Di rumah peyot itu ada keluarga besar yang sedang saling
termenung, saling tercenung. Adik Udin yang kedua, Reza menagih uang
sekolahnya yang sudah satu semester tak pernah di bayar kepada ayahnya
yang masih lelah seharian berputar – putar mengendarai mobil yang bukan
miliknya.

   

“Dengan apa bapak bisa bayar uang sekolah sebanyak ini nak ?” tanya bapak Udin dengan sangat lirih.

   

Kening
yang mulai keriput milik lelaki kekar itu menyerngit hebat sambil
memandangi secarik kertas peringatan yang di keluarkan sekolah Reza
anak laki – laki keduanya. Pandangan lelaki tigapuluh tahun itu kosong
saat melihat besarnya angka – angka yang tertera di

sana

sebagai total yang harus ia bayar untuk mempersilahkan anaknya
mengikuti ujian semester yang akan berlangsung diwaktu dekat ini.
Baginya angka dua ratus

lima

puluh ribu itu sangat fantastis. Ia sendiri hampir tidak pernah
mendapatkan uang sebanyak itu dari hasil pencarian nafkahnya. Kini ia
harus berusaha banting tulang dalam waktu yang sangat singkat agar
anaknya bisa mengikuti ujian.

   

Tapi kata – kata yang ingin di lontarkannya kepada anaknya Reza berbeda dengan apa yang di pikirkannya.

   

“Reza, kamu berhenti sekolah dulu untuk sementara waktu.”

   

Lelaki
itu sudah putus asa terlebih dahulu. Ia merasa tak mungkin mendapatkan
uang sebanyak itu dalam waktu dua minggu. Itu mustahil baginya.

   

Dengan
mata nanar, Reza berdiri lalu pergi keluar rumah meninggalkan semua
anggota keluarganya yang duduk membisu di atas lantai semen dingin.
Terpaku memikirkan nasib dari bawah atap seng yang bolong – bolong.

   

“Jangan hancurkan masa depanku, ayah !” seru Reza dari balik pintu rumah berkarat.

   

Ayah
Udin yang tadinya berusaha untuk tidak melunturkan kharismanya sedikit
pun sebagai kepala keluarga kini luluh dengan serta merta menundukkan
kepalanya menyesali nasib keluarga yang ia kepalai. Ayah macam apa saya ?, tanya lelaki itu kesal.

   

Di sampingnya wanita berparas lembut itu duduk membisu dengan wajah berhias air mata. Setelah Udin, sekarang giliran Reza, katanya dalam hati. Mau jadi apa anak – anakku     nanti ?, tanyanya mengiris kalbu pada sanubarinya yang telah berulang kali terluka akibat himpitan dan kecaman hidup.

   

Udin
hanya terdiam sambil mengenang pada masa dimana ia mengalami hal yang
sama dengan Reza, di paksa untuk berhenti sekolah karena tidak bisa
membayar uang sekolah dan uang ujian. Pada detik di masa itu, adalah
penentuan jalan hidupnya yang langsung berubah total. Masa depan yang
waktu kecil sangat ia impi – impikan. Udin ingin menjadi dokter. Itulah
masa depan yang ia idam – idamkan. Tapi kini, Udin malah bekerja
mengais – ngais sampah berharap mendapatkan barang – barang yang dapat
bermanfaat dan menghasilkan uang.

   

Udin
tau, apa yang dirasakan Reza adiknya pasti sangat pilu sekaligus kejam.
Bukan perkara mudah untuk bisa merelakan masa depannya hanya kerena ia
tak bisa melunasi hutang – hutangnya pada sekolah. Tak bisa kah sekolah
memaklumi kehidupan orang yang sulit ? pada zaman yang makin canggih
ini, orang – orang pun bekerja seperti robot tanpa hati nurani. Begitu
picisan dan begitu kejam.

   

Beberapa
saat kemudian, Reza kembali masuk rumah dengan memajang wajah
ingusannya yang basah akibat ulah air matanya. Reza berdiri di hadapan
semua anggota keluarganya yang duduk di atas semen dingin. Berdiri di
hadapan bapaknya. Lelaki tiga puluh tahunan yang menunggu reaksi Reza
selanjutnya.

   

“Aku…. Aku….” Ucap Reza terbata – bata.

   

“Aku mau berhenti.. saja sekolah pak,” ungkap Reza melanjutkan kata – kata yang sangat berat ia ucapkan, ia keluarkan.

   

Isak tangis pun tak bisa lagi di bendung oleh wanita setengah baya yang duduk di samping lelaki yang menjadi kepala keluarga di

sana

.
Laki – laki itu menghela napas, perih dengan kehidupan yang dijalani
keluarganya. Semua hal begitu menghimpit dan mengecamnya. Semua hal
yang ia yakini selalu bergantung pada uang.

   

Malam
ini, mereka tidur dengan sejuta rasa pasrah pada nasib yang mereka
terima. Hingga pagi menjelang, mereka pun kembali mencari sesuap nasi
yang bisa menyambung hidup mereka.

   

***

   

Jilatan
matahari dengan biadab menggosongkan kepala dua orang pemuda yang
berdiri di sebelah bak sampah di jalan Ujung Gurun. Udin dan Reza
mengais – ngais sampah mencari botol – botol plastik atau benda – benda
berharga yang bermanfaat bagi mereka.

      

Dengan tekad membara, mereka kembali berjalan menuju Pattimura melewati rumah peyot mereka di jalan

Padang

pasir. Udin membawa Reza mengais – ngais sampah di depan lapak sate
KMS, tempat favorit Udin. Disana ia bisa mencium bau sate yang lezat,
sambil berkhayal bisa menikmatinya.

Perjalanan
waktu membuat Udin paham betul siapa dirinya. Satu hal yang ia tanamkan
di dalam hatinya, yaitu selalu sabar dan menerima apa adanya. Menerima
apa adanya kehidupan yang telah dianugerahi Tuhan kepadanya. Sebisa dan
semampu mungkin ia harus berusaha menikmati susah, senang, perih dan
indahnya.

   

Dan yang Udin tau, ia memiliki satu hal kekayaan yang tak ternilai di muka bumi ini. Satu hal yang membuat bocah

lima

belas tahun itu memiliki tekad baja untuk bangkit dari kehidupan yang
tidak layak ini. Satu hal yang sangat indah. Satu hal yaitu keluarga.

 

 

 

Ada

ayah, ibu dan adik – adiknya.

 

 

                                                             

***

I am a cyborg

Saklar
listrik, ada. Kabel, juga ada. Beberapa obeng dan berbagai macam besi,
juga sudah ada. Semua kuletakan ke dalam satu wajan yang berbeda –
beda. Sekarang aku tinggal menyayat pergelangan tangan dan memasangkan
saklar listrik ke dalamnya. Setelah itu listrik akan mengalir dari
saklar ke dalam tubuhku. Aku kembali hidup.

 

Semua
tahap – tahap itu sudah kulakukan. Aku sudah memotong pergelangan
tangan dengan sebilah pisau kecil. Aku melihat banyak darah segar
mencuat dari balik dagingnya. Tapi aku sama sekali tidak merasakan
sakit.

 

Setelah
melakukan semua itu, aku tinggal menunggu beberapa menit untuk
merasakan kuatnya aliran listrik masuk ke dalam tubuhku. Sehingga aku
kembali hidup. Sambil menunggu aliran listrik itu bergerak di dalam
tubuhku, aku dengan nikmat menjilat obeng – obeng serta paku dan besi
yang sudah tertata lezat di wajan – wajan kesayanganku.

 

Beberapa  menit pun berlalu,
aku berhenti menjilat dan mengunyah obeng – obeng, besi dan juga paku.
aku melihat banyak bayangan hitam menari – menari di depan mataku.
Mereka bergerak ke kanan lalu ke kiri. Ke depan dan ke belakang. Mereka
membuat aku pusing. Apa sih maunya mereka ???

 

***

 

Aku
melihat, melihat orang – orang memakai baju putih – putih. Ada yang
memasang penutup mulut di wajahnya. Ada yang memakai stetoskop. Aku
tau, aku berada di rumah sakit. Dan aku harap bukan rumah sakit jiwa.

 

“Sekarang bagaimana rasanya ?” tanya si dokter kepada aku.

 

“Bagaimana rasanya ??? apanya ???” aku balik tanya.

 

“Tangan nona. Apa tangan nona masih sakit ?” jawab si dokter dengan kembali bertanya.

 

“Tangan ??? kenapa dengan tangan saya ?” aku kembali bertanya.

 

“Apa tangan nona masih sakit ?” si dokter bertanya lagi.

 

“Sakit ??? apanya yang sakit ?” tanyaku kembali.

 

Si dokter tiba – tiba diam dan tak bertanya lagi. Dia menelengkan kepalanya ke kanan, bingung.

 

Aku pun tersenyum. Lucu. Si dokter kelihatan sangat lucu. Sekarang dia mau tanya apalagi ??? hehehe….

 

“Baiklah,
mungkin nona tidak merasa sakit lagi. Bila ada sesuatu, nona tinggal
memanggil suster yang berjaga. Kalau begitu saya sudahi
pemerikasaannya. Permisi,” ujar si dokter yang langsung melangkah
keluar.

 

Setelah si dokter keluar aku langsung bangkit dari tempat tidur.

 

“Aku akan pergi !!!” seruku dengan semangat.

 

Dengan
langkah pasti, aku pun membuka pintu kamar rumah sakit dan berjalan
keluar menelusuri setiap sela ruangan dan melewati kamar – kamar
pasien. Aliran listrik yang masuk ke dalam darahku membuat tubuhku
lebih kuat dan bersemangat. Energinya sangat aku rasakan.

 

Aku
tak butuh seorang dokter. Aku tak butuh minum obat. Aku tak butuh
makan. Aku juga tak butuh minum air. Yang aku butuhkan adalah listrik,
besi – besi kecil yang nikmat serta obeng – obeng yang lezat.

 

Kalau
ada musuh yang mendekat, aku tinggal membuka tutup senjata di ujung
jari – jari tanganku dan mengeluarkan berpuluh – puluh amunisi yang
kutembakkan kepada orang – orang yang mengganguku. Dor, dor, dor !!!
hahaha… tuntas… !!!

 

Tidak.
Di ujung koridor sana aku melihat ibuku dan ayahku datang. Di belakang
mereka juga ada adik dan kakak laki – lakiku. Mereka datang !!! oh,
tidak !!! mereka datang !!! mereka datang menjemputku !!!

 

Lari !!! aku harus lari !!!

 

Aku
pun berbalik arah. Dengan secepat kilat aku melewati bilik – bilik dari
ruangan kelas ekonomi. Rumah sakit ini ternyata sangat luas, sampai –
sampai beberapa kali aku nyasar ke tempat yang sudah aku lewati.

 

Ya,
akhirnya aku tiba di luar rumah sakit. Aku tinggal menyetop taksi dan
pergi dari tempat terkutuk ini. Aku lapar, aku ingin paku – paku, obeng
dan besi – besi kecilku yang lezat. Aku ingin bermain – main dengan
listrik.

 

“Reta… mau kemana kamu nak ???”

 

Oh, tidak !!! itu suara ibuku. Ibuku memanggilku. Aku harus lari, lari lebih kencang.

 

“Reta, pulang !!!”

 

Tidak,
tidak, tidak !!! itu suara ayahku. Ayahku yang menakutkan. Ayah selalu
menginginkan aku menjadi seperti yang dia mau. Ayahku menyebalkan. Aku
harus cepat – cepat pergi dari sini sebelum mereka semua kembali
mengurungku di rumah itu. Di rumah neraka itu.

 

Ayahku,
ayahku dan ibuku membuat aku menyukai listrik, obeng – obeng dan besi –
besi kecil kesukaanku. Mereka dari jarak dekat mau pun jauh bisa
mengendalikanku dengan remote yang khusus mereka buat. Kalau mereka
menginginkan aku menjadi Luna maya, maka aku akan menjadi seperti Luna
maya dengan sekali menekan tombol di remote yang mereka punya. Bila
mereka menginginkan aku menjadi kak Mirna, tetanggaku yang mendapat
gelar mahasiswa terbaik, maka secara otomatis aku menjadi seperti kak
Mirna dengan sekali menekan tombol pada remote yang mereka punya.

 

Aku
robot. Robot yang mereka kendalikan. Aku mencoba menjadi apa yang
mereka mau. Sehingga aku kehilangan semua yang ada di dalam hatiku.
Harapan yang waktu kecil kugantung rapi di langit – langit kamar. Cita
– cita yang kusimpan di dalam laci meja belajarku. Tapi semua tidak
berarti bagi mereka.

 

Namun
aku memang tidak bisa lari lagi saat mereka memanggil namaku. Mereka
sudah mengendalikanku dengan remotenya. Aku kembali menjadi robot
kesayangan mereka. Kembali secantik Luna maya yang mereka mau. Kembali
menjadi sepintar Kak Mirna yang mereka mau. Dan kembali kehilangan
semua hal yang aku mau.

 

Aku
membalikkan badan kebelakang, ke arah mereka. Ibuku langsung
menyambutku. Memelukku. Ayahku langsung menceramahiku tentang perbuatan
yang aku buat. Kakak dan adikku hanya berdiri di belakang mereka,
sambil diam melihatku kaku.

 

Aku
robot. Aku tidak butuh makanan, minuman dan kasih sayang. Aku sudah
mati rasa. Aku juga tidak punya air mata. Sesampai di rumah aku akan
kembali mengalirkan listrik ke dalam darahku dari pergelangan tanganku
yang terlebih dahulu harus kusayat – sayat.

 

Semua
kulakukan karena aku memang robot. Robot punya ayahku. Robot punya
ibuku. Dan aku tak memiliki apa – apa untuk diriku sendiri. Karena aku
adalah robot.

aku akan menghilang untuk sementara waktu

aku akan menghilang untuk sementara waktu.
memikirkan matang - matang semua hal yang telah aku perbuat.
dan ketika aku mendapatkan kenyataan bahwa aku tidak pernah berbuat apa - apa untuk diriku sendiri, aku terdiam.
semua harapan yang kugantung di langit - langit kamar di waktu kecil.
semua cita - cita yang kusimpan di meja belajar, semua hilang tak menggantung dan tak mengapa - mengapa.
apakah aku harus kembali termenung ?
ketika aku menyadari orang - orang yang kuanggap teman adalah orang - orang yang melecehkan dan tak menghargai keberadaanku.
ketika orang - orang yang sedarah malah mencampakkan semua hal yang kususun rapi.
ketika saat kubuka mata di pagi hari, aku membenci siang.
ketika hujan tak kunjung datang, air mataku pun habis.
dan ketika aku berjalan, aku berjalan sendiri.
dan ketika aku memutuskan untuk diam lalu menghilang
semua orang mempertanyakan sikapku.

aku jengah.
tak pernah mendapati  apa - apa  dari semua perjalanan pada masa ini.
karena semua yang aku cari dan yang aku ingin tiba - tiba menjauh dan menghilang.
di tambah lagi semua hal yang aku buat dan yang aku berikan tak pernah menjadi berguna malah di sia - sia kan.

lama - lama aku merasa menjadi sampah.
seperti kata temanku, parasit, setelah aku memberikan apa yang mereka mau.
seperti sampah, setelah di gunakan lalu di buang.

di balik awan

kutak selalu begini
terkadang hidup memilukan
jalan yang kulalui
untuk sekedar bercerita
pegang tanganku ini
dan rasakan yang kuderita
apa yang ku berikan tak pernah jadi kehidupan.
semua yang kuinginkan menjauh dari kehidupan.
tempat ku melihat di balik awan
aku melihat di balik hujan
tempatku terdiam tempat bertahan
aku terdiam di balik hujan.

pegang tanganku ini dan rasakan yang kuderita
genggam tanganku ini, genggam perihnya kehidupan…

cerpen “senja…”

bunyi suara mobil - mobil bergetar kencang mamacung telingaku. Sontak aku kaget bukan kepalang, saat aku mendengar ada salah satu bunyi seperti memanggilku.
senja… senja… senja…

aku menoleh ke samping. tak ada satu pun penumpang angkutan kota yang kukenal.
senja… senja… senja…
kembali aku pun menoleh ke samping. sama, tak ada seorang pun yang kukenal.
aku melihat semua penumpang angkot sibuk dengan renungan mereka masing - masing, apalagi dengan ibu - ibu yang duduk tepat di depanku. beliau sedari tadi hampir tiap detik mengintip jarum - jarum yang bergerak di balik kain pada kemeja lengan panjangnya.
lalu siapa yang memanggilku ??? ah sudah lah, mungkin hanya perasaanku saja. mungkin aku sedang lelah.
panas di kota bingkuang mungkin sudah membuatku berhalusinasi. apalagi dari pagi hingga sore ini aku berkutat di luar rumah. sibuk bertemu dengan teman - teman lama dan teman - teman di kampus.
barangkali aku memang lelah.
senja… senja…. senja…
baik lah, sekarang aku benar - benar cemas. kendaraan yang aku tumpangi sedang melaju cepat. dan semua penumpang masih sibuk dengan rencana - rencana yang mereka bangun di dalam pikiran mereka. dan semua tetap diam. bahkan tidak ada yang mengenaliku.
lalu, bagaimana ada seseorang yang memanggilku senja ???
namaku senja. putri senja sari. dan aku di panggil senja. ayo siapa yang memanggilku mengaku lah. aku tak akan marah. ayo mengaku lah.
aku mulai gelisah sendiri. tapi aku harus bagaimana ???
akhirnya aku keluar dari angkot aneh itu. tempat yang kutuju sudah menanti di depan mata.
sore mulai terlihat merah - merah. aku mendengar teriakan burung - burung di langit yang sedang saling berlomba - lomba menuju laut.
di depan ada rumahku. rumah sederhana dengan taman kecil yang di penuhi dengan bunga asoka. di tengah taman ada ayunan kecil sedang bergoyang - goyang di tiup angin. aku melewati pagar putih dari besi yang di atasnya sengaja di buat runcing - runcing. kata ayahku agar tidak ada orang yang bisa melompat pagar.
ketika aku membuka pintu, wajah ayah yang sudah tua renta dengan kerut - kerut abstraknya telah menyambutku. ayah tidak memajang senyumnya tidak seperti biasanya. "ibumu sakit, tengok lah di kamarnya" kata ayah mencoba tabah.
aku ternganga. menyadari apa yang telah aku lakukan seharian. aku melupakan keluargaku. melupakan ibu.
aku masuk kekamarnya. kulihat ibu di balik selimut tebalnya merengut terisak - isak menghela napasnya yang sulit. ibuku sakit. aku duduk di samping tempat tidurnya yang bau kayu cendana. aku sentuh keningnya. panas. perlahan - lahan aku belai rambut yang  ikal hitam namun sebagian terlihat memutih. ibuku sudah tua.
aku menunduk sambil menahan air mata.
"senja… senja… senja…." ujar ibuku lirih.
ibuku memanggilku. ibuku memanggilku. aku mendengar itu ibuku memanggilku. ibu aku memanggilku. ibuku, itu ibuku, ibuku yang memanggilku. aku mendengar itu ibuku, ibuku… ibuuuu…kuuu.. ibuku… aduh senja…… ibumu memanggilmu tadi…
itu ibuku. ibuku yang memanggilku tadi. tadi ibuku memanggil - manggilku. ibuku memanggilku senja….
ibuku memanggilku senja….
aku pun tertunduk sudah tidak menahan air mata lagi.

hari ini, eh bukan 3 hari ini gw g tau kenapa lagi.
walau di luar rumah gw bisa wakakakaka ama temen2 tapi tetep aja tiba di rumah gw kembali emo.
tiba2 gw jadi eneq. g mau ngapa2ain. apalagi jaga warnet !!!
gw mulai muak dengan rutinitas gw.
dimana kalo kekampus pasti dosen blm tentu datang.
dimana kalo ketemu orang pasti itu ke itu aja.
bosen dan muak.
ah biadab.
dimana gw di kelilingi oleh orang2 yang egois.
yang tak mau tau dengan bagaimana orang lain.
dimana gw muak dengan mereka.

dan mereka selalu mengatakan:
mereka lah yang paling benar. mereka lah yang paling banyak masalah. mereka lah yang paling menderita. mereka lah yang paling beruntung. mereka lah yang paling menyedih kan. mereka lah yang paling pintar. mereka lah yang paling baik. mereka lah yang paling banyak kepentingan. mereka lah yang berkuasa.

dan si pendiam ini, hanya berkomentar di dalam blognya.
nasib2.

anjing !!!!!!!!! dosen sompreeeeeeeeeet… seenak perutnya ngirim sms "kuliah g ada" di waktu jam kuliahnya masuk. dosen setaaaaaaan !!! 3 hariiiiiii !!! bukan ! 4 hari !!! dosen2 anjing setan laknat bikin hidup gw g nentu. gw serasa di permainkan.
makan tuh gaji haram !!!
fakultas hukum lah namanya.
hukum ??? hukum apa ??? hukum anjriiiiiiit !!! makan tuh hukum !!! gw benci kampus setan hukum !!!

seandainya di pesawat ada tukang jual perkedel ???

apa jadinya kalo di pesawat kita mendapati tukang tagih karcis dan tukang jual minuman ??? atau di pesawat kita menemukan ada emak - emak pake sarung dengan seember perkedel jagung muda serta tak lupa dengan jualan telur asinnya ???
coba juga bayangkan jika di atas pesawat kita bertemu dengan tukang parkir, pengamen, pengemis, tukang topeng monyet dan tukang pijit !!!
belum lengkap segala "coba bayangkan" gw dan ke empat teman "gila" gw bakal bertanya sekali lagi… coba bayang kan di atas pesawat bila kita ingin keluar karena alamat yang kita tuju ada di bawah pesawat, kita cuma tinggal pencet tombol "bye" yang ada di samping kursi kita lalu kita cuma tinggal ngucapin "bye bye" ama orang sebelah dan wusssss……… kita pun langsung terjun pake mesin jet yang kita sandang di punggung dan kita  langsung sampai di tempat yang kita tuju (syukur2 selamat).
atau pada saat kita ingin naik pesawat, kita cuma tinggal nunggu di halte pesawat yang ada di pinggir jalan lalu pesawat pun ngatem kayak bus atau angkot dan siap membawa kita ke tempat yang kita tuju.

wakakakak ngacooooooooo !!!! gila ini bener2 ngaco !!!

gw sampai ngakak hebat saat gw dan ke empat teman gw ngomongin hal yang aneh2 waktu kita lagi nonggkrong di kim golden (tempat makan paling wah bagi kita). pada menit lagi tenang2nya, tiba2 kita di datangin ama dua orang pengemis. satu emak2 yang ngedipin mata terus (gw g tau apa bener2 buta atau g soalnya banyak orang yang udh sempurna pengen cacat demi uang di jalanan !!!) dan yang satu lagi emak2 yang pake kacamata, tas pinggang, sepatu wah serta jilbab yang wah ( g yakin ni).
kita pun langsung bilang "maaf buk" dengan kepala menunduk.
dan langsung pembicaraan meledak seputar dunia penipuan para kaum marjinal dan anak2 jalanan.
temen gw bilang, dia pernah ketemu bapak2 di jalan yang kelihatannya kakinya buntung eh g taunya kakinya di lipet di dalam celananya yang gede (sompreeeeeeeet teriak kami).
teman gw juga ada yang bilang, waktu di pasar ngasih duit ama anak yang kakinya bengkok sebelah dan pernyataannya langsung di sanggah temen gw yang satu lagi, dia pun berkata "ooooh yang di pasar itu ??? itu mah kakinya bisa lurus lagi, saya nih saksi matanya !!!" (ampuuuuuun dah "teriak kita")
"terus ada juga yang suka gendong2 anak lalu minta2 anehnya anaknya kok tidur terus ya ???" tanya gw.
eh di jawab ama teman gw, "oh yang itu paling anak sewaan, terus di kasih obat tidur biar g rewel" (oh no !!!)
"satu lagi ni" kata temen gw yang lain. "ada juga yang pura2 kakinya borokan padahal di kasih tapei di balut ama perban, jadinya kayak borok di ilerin" (edaaaaaaaaaan "teriak kita serentak !")
ya, langsung lah cerita mengalir kepada seandainya di pesawat ada bla bla bla *seperti yang di atas.
di sela2 cerita tentang seandainya di pesawat ada ini itu, salah satu temen gw ngomong… kalo jadi pramugari cepet mati !!!
sontak kita langsung diam dengan mimik menebarkan aura kegelapan.
namun pernyataan temen gw yang polos itu di jawab ama teman gw yang lain.
"ya bagus lah, setidaknya kalo di tanya kan jawabannya, meninggal karena kecelakaan pesawat bukan karena kecelakaan bajaj, kan ???"
gubraaaaaaaak !!!!
kita langsung tersenyum dan kembali pada bersuara.
ada yang bilang lebih baik di tabrak BMW dari pada di lindas becak.
lebih baik di hantam ford daripada di gilas truk tinja !!!
ada ada aja !!!
dan kita berhasil membuat semua mata mengunjung kim golden menatap nanar karena kita biang ribut ( selalu jadi biang ribut di sana apalagi kalo tidak ada musrik (musik)  )

pada akhirnya kita pun lima "perempuan2 tdk punya cerita" tapi punya otak sinting pergi dari tempat yang telah memberikan rasa kenyang pada perut dan kemping pada dompet.

dan kata2 terakhir yang di tinggalkan teman gw sebelum kita berpisah dan pergi ke habitat masing adalah… "mana kunci kamar kos gw ???"

kami pun kabur…….

kehilangan jalan menuju dunia khayalan itu

pagi pasti akan datang.
itu kata - kata yang saya cetuskan ketika saya dalam malam.
besoknya, saya akan mengatakan, malam pasti akan datang.
ketika saya berpikir di pagi hari.
rutinitas. keseharian. berganti - ganti. dan tetap berputar di poros yang sama.
dan ketika saya mempertanyakan eksistensi saya sebagai seorang manusia.
yang hidup dengan menghirup udara.
dan bergerak sesuai dengan apa yang di pikirkan.
saya mempertanyakan eksistensi saya disini.
di dalam diri saya sendiri.
ketika apa yang ingin saya capai tak pernah bisa menjadi nyata dan jelas.
saya mempertanyakan eksistensi diri saya sendiri.
saya merasa tak berguna.
merasa bodoh.
ketika yang ingin saya capai…
hanya menjadi racun di dalam benak saya
dan menjelma menjadi virus yang menghancurkan pikiran dan hati saya.
setelah itu lah saya menyadari
semua yang saya ingin..
tak pernah mau mendekat
tetapi semua yang saya ingin…
meminta untuk di dekati.
dan saya kehilangan jalan menuju ke sana.
ke dunia khayalan itu.

tolong jangan tampar senyum gw

3 hari atau mungkin satu minggu.
gw ngejalanin hari yang lumayan berat.
tapi dalam 3 hari terakhir, perasaan gw mulai terbuka.
gw ngeliat harapan itu.
harapan yang gw kira cuma orang yang beruntung yang dapat.
gw harus berusaha karena ini satu2nya cita2 gw.
gw harus bisa.
gw harus berlari sekuat2nya biar gw bisa mencapainya.
dan gw harap…
setelah hari2 kemeran.
akan ada hari2 cerah yang siap menunggu gw.

dan itu bukan mimpi.
dan kalo pun itu mimpi
tolong jangan tampar senyum gw.

Next Page »