pada pukul 1, 2 dan 3 pagi (ceritapendeksingkatsekali)

Malam ini, aku seperti berjalan dengan bola besi terikat di sebelah kaki. Berat. Tak kuasa memejamkan mata. Tak kuasa mendiamkan pikiran. Semua guratan - guratan tentang masalalu dan tentang hari ini seperti film di bioskop, ditayangkan satu persatu tanpa henti hingga fajar tak bisa menunggu aku memejamkan mata barang sedetik pun. Entah mengapa perasaan itu datang lagi. Perasaan ingin mati tetapi takut mati.
Aku menggigil di sudut ranjang, menggeliat di dalam selimut panas. Mataku mungkin terlihat berbeda. Aku merasakan pupil mataku melebar. Seakan - akan, sedang menunggu malaikat pencabutnya nyawa datang padaku. Aku gemetar tak habis - habis. Hingga kupendam kepalaku dalam - dalam ke balik selimut panas. Ayah, ibu, aku akan mati.Tapi aku belum mau mati malam ini. Dosaku masih segunung, dan aku belum memberikan apa - apa kepada kalian. Pikiranku mulai bertambah kacau. Dan sunyi semakin menggembor - gemborkan ketakutanku. Ketakutanku akan kematian.
Sampai pagi, aku tak menemukan hujan turun di luar sana.

red mirror

aku terkejut melihat cermin itu bercahaya. cahayanya mulai memancar kemerah - merahan. sayup2 suara gaduh dari loteng rumah terdengar nyaring dan memekakkan telinga. “kucing sialan. pacaran malam2 begini. ribut aja,” gerutuku sambil pelan - pelan bangkit dari tempat tidur yang tadinya akan kutempati untuk terlelap.

cahaya yang kulihat memancar dari dalam cermin tua milik nenek itu terus menerus memerah bahkan semakin kuat. aku semakin tergiur ingin menyentuh sisi permukaannya. “ada apa dengan cermin ini ?” ujarku dalam hati.

rasa penasaran itu lama kemalamaan benar - benar seperti raja yang berkuasa di otakku. aku berjalan mengendap - ngendap takut - takut jikalau ayah dan bunda terbangun hanya gara - gara langkah kakiku yang menukik kuat ke lantai - lantai jati yang dingin.

waw…… pupil dikedua mataku melebar seketika saat wajahku sudah mendekati permukaan cermin tua itu. cahaya di dalamnya begitu indah. warnanya kemerah - merahan. seperti ada aurora di dalam cermin itu.eh, tapi tunggu dulu… kuhentikan gerakjari telunjukku yang mengacu menyentuh permukaan cermin aneh itu.  jangan - jangan… Aku mengurungkan niat untuk melangkah lebih jauh lagi. takut, dan tak mau mengambil keputusan yang salah. mana tau cermin itu bukan cermin sembarangan. mana tau itu adalah cermin kutukan atau cermin sihir. hiiiiiiiii takut.

…… masih pengen disambung hehehe