May 31, 2009
“bagaimana kalau aku mati saja ?”
“bagaimana kalau aku mati saja ?”
ya… kamu pasti tau jika kita pada awalnya merasa bahagia maka itu tandanya kita sedang menunggu masa dimana kita akan bersedih dan jatuh. dan sebaliknya, jika kita sedang merasa sedih maka itu tandanya kita sedang menunggu masa dimana kita akan bahagia, tertawa dan tersenyum sepanjang hari. dan kini aku rasa, aku sudah sedang bertemu masa sedih karena masa bahagiaku baru saja aku lewati.
dan kini aku mulai kembali memikirkan tentang masa ke depan. tentang diriku pada sisi yang payah. tentang hal - hal yang salah. tentang semua perkataan orang - orang yang salah. dan pikiran - pikiran itu mengajakku menumbuhkan satu keinginan. keinginan yang selalu hadir saat aku berada pada titik nol. terpuruk. sepi. menyedihkan. dan menjijikkan. “bagaimana kalau aku mati saja ?” satu pertanyaan atau permintaan yang bodoh. aku ingin mati saat mulut - mulut itu mengatakan aku tidak memikirkan masa depan. seolah - olah aku seperti seonggok daging beku yang hanya diam tak bergeming. tak berguna. seperti kera besar tua yang dipenjara lalu kerjaannya cuma tidur dan makan.
cih !!!
TAU APA MEREKA TENTANG AKU ?
mungkin dalam pemikiran mereka aku adalah beban. aku merugikan. aku mengganggu.
dan sekarang aku menawarkan satu permintaan pada mereka. bagaimana kalau aku mati saja ? setelah aku tiada, mungkin mereka bisa hidup tenang ? bahagia tanpa beban ? lepas dan puas seperti pada saat aku melepaskan dan meninggalkan apa yang selalu membebaniku. mungkinkah mereka menginginkan demikian ?
ah… semuanya masih saja salah. dan aku masih saja harus belajar untuk menerima keadaan yang memang tak pernah sesuai dengan apa yang aku inginkan. pada kenyataannya aku memang egois tapi aku tidak seperti kata mulut mereka. mungkin karena aku tak mengerti bagaimana cara mengungkapkan sebuah sikap sebagai simbol bahwa aku selalu memikirkan masa depan maka mereka bilang aku tak pernah memikirkannya.
aku memang payah dalam mengungkapkan sebuah sikap dan perkataan jika aku ada di luar sana. aku lebih ahli menuliskannya daripada mengungkapkannya denghan sikap dan kata2 yang nyata.
aku orang yang kaku. tapi tak seharusnya mereka mengatakan aku tak pernah memikirkan tentang masa depan berkali2 setiap hari setiap saat. aku ingin mereka mencoba mengerti dan memahami bagaimana aku dengan kelemahanku. bukan selalu mencoba memaksaku dan memberi sugesti2 negatif padaku. karena mereka tidak tau, jika mereka bilang aku seperti bla - bla - bla maka aku aku menjadi seperti bla - bla - bla dengan cepat. aku cenderung selalu mengikuti apa yang mereka katakan. apalagi aku selalu cepat menjadi sesuatu yang negatif dari sugesti2 mereka karena sifatku memang lebih cepat menyerap hal2 negatif dari pada hal2 positif. dan mereka tidak pernah tau, aku payah begini gara2 selalu mendengarkan ancaman2 mereka, sugesti2 negatif mereka dan keinginan2 mereka.
aku begini kerena mereka. tapi aku tak bisa menyalahkan mereka karena mereka tak boleh disalahkan.
Filed by teruteru-bozu71 at 5:09 pm under Di perjalanan...
Seorang bijak pernah berkata, cing cangkeling manuk cingkleung cindeten. Artinya hidup adalah pilihan, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang malas. jadi jangan banyak ngeluh, lu bukan pemalas kan? semangat dong ah!
jendral kuper… jangan2… huaaa… masih ingat aku ternyatah ? eh beneran oopblabla *lupahurup2nya*.
maap, postingnya lagi dalam keadaan ancur hatiku. jadi begitu yang keluar :(.
gimana kabar jendral kuper sekarang ? sedang sibuk apa ? punya anak berapa sekarang ? wakakakakaka *becanda*