si pelipur lara

yang bertubuh kuyu meratap jengkal lelah
matanya menyapu ribut debu dengan riang bercengkrama di seputar selaput penglihatan
KOTOR.
nada - nada memang sudah terurai seirama sejak dulu
namun disini not - not balok itu bertebaran, berserakan di atas becek bekas air mata. pada tumpah deranya.
JENGAH.
yang singgah datang berganti - ganti
tanggalkan senyum wahai si pelipur lara
biar ego bicara
terdengar gelak mengudara
HEY !!!
si tubuh kuyu tadi tenggelam dalam tetes - tetes keringat nestapa
diselimuti pedih gigitan luka. luka lika liku la la la la…
SUDAH.
kau tak perlu menjadi penghibur untuknya
satu komponen dalam tubuhnya telah kenyang melahap lara hati.
YA,
cukup untuk peras gigil yang menyerap dalam derai tangisnya.

jee asha

untuk ayah, ibu dan adik - adikku yang hebat. telah lama kita hidup sepi deraan. kita telah terbiasa menikmati apa yang ada. dan kini hampir dua minggu kita di uji oleh yang maha kuasa. untuk mengusahakan apa yang tidak ada.

dengan air. kita di uji untuk berusaha, berkerjasama, dan menahan amarah atau ego. di ajarkan menghemat. di ajarkan bersabar. cobaan ini pasti ada hikmahnya.

saat semua satu - persatu menjadi masalah yang sangat berat. hingga keputus- asaan meradang dalam batin kita. kita tak akan lupa, bahwa kita adalah satu kesatuan keluarga. yang memiliki toleransi dan saling memiliki satu sama lain.

masalah ini akan menjadi pelajaran untuk kita semua.

mungkin ini adalah kunsekuensi dari apa yang aku pilih.

aku pergi dari kampus itu.

No comments yet. Be the first.

Leave a Reply